Dua Syarat Biar Ekonomi Syariah RI Makin Ngebut

ADVERTISEMENT

Dua Syarat Biar Ekonomi Syariah RI Makin Ngebut

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Kamis, 31 Mar 2022 13:54 WIB
Ekonomi Syariah
Foto: Ekonomi Syariah (Istimewa)
Jakarta -

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf mengatakan bahwa ekonomi syariah terlahir dari dua kecenderungan utama.

Pertama, kecenderungan terkait pangsa pasar. Populasi muslim yang cukup besar di dunia dianggap sebagai pangsa pasar yang menjanjikan.

"Dorongan untuk dapat memanfaatkan captive market ini, kemudian membuat orang berpikir untuk mencari satu brand yang bisa merepresentasikan karakter dasar dari captive market tersebut," ujar Yahya, dalam acara Gerakan HIPMI SyariahPreneur Indonesia di Jakarta, belum lama ini.

Kedua, lanjutnya, umat islam memiliki kecenderungan untuk membuat klaim dinamika pasarnya sendiri. Klaim itu berada di luar keseluruhan dinamika global yang terjadi saat ini.

"Kecenderungan ini sudah cukup lama berkembang, yaitu ketika umat islam di dunia ini sedikit banyak merasa bahwa dunia ini membangun sistem dengan model yang tidak sepenuhnya friendly kepada umat islam," ucapnya.

Menurutnya, dalam bentuk yang lebih ekstrem, kecenderungan ini menimbulkan pemikiran kepada sebagian umat islam bahwa dunia ini didominasi oleh non muslim. Sistem serta pelaku dinamika global dianggap didominasi kalangan non muslim.

"Biasanya yang paling banyak disalahkan itu orang Yahudi. Sehingga, kemudian ada impulse untuk membangun sendiri model yang khas islam. Ini cukup dalam akar mentalitas dari impulse ini," ungkapnya.

Oleh karena itu, tambahnya, umat muslim perlu merenungkan lebih dalam terkait permasalahan ini. Pasalnya, kecenderungan ini membuat umat muslim malah melahirkan captive market atau pasar dengan pilihan yang terbatas.

"Sebetulnya dalam semua wacana ekonomi syariah itu, ada hal yang cenderung mengarah pada kesalahpahaman tentang pengertian dasar dari syariah itu sendiri," tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Mardani H. Maming menuturkan dalam 50 tahun kiprah organisasi itu telah banyak melahirkan program seperti HIPMI Goes to Campus, HIPMI Goes to School dan HIPMI Goes to Pesantren.

"HIPMI Goes to Pesantren bisa bekerjasama dengan anak-anak HIPMI di pesantren-pesantren untuk mempersiapkan bangsa ini agar tidak tertinggal dengan bangsa-bangsa lain," ujar Maming.

Jumlah entrepreneur Indonesia, kata Maming, masih tertinggal dengan negara-negara tetangga. Indonesia mencatat baru 3,4 persen entrepreneurnya, sedangkan Malaysia 5 persen dan Singapura 7 persen.

"Padahal, untuk menjadi negara maju kita butuh 12-14 persen. Kalo 3,4 persen dari jumlah penduduk 270 juta kita baru punya 10 juta, kekurangan 30-40 juta untuk mencapai 12-14 persen," ucap Bendahara Umum PBNU periode 2022-2027 itu.

(kil/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT