Sektor Pertanian RI Bisa Pakai Sistem Blockchain, Apa Untungnya?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Senin, 11 Apr 2022 14:58 WIB
Pengojek mengangkut karung berisi gabah di area persawahan Mangarabombang, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, Jumat (20/3/2022). Petani di daerah itu memanfaatkan jasa ojek pertanian untuk mengangkut hasil panen mereka dengan tarif Rp10 ribu per karung. ANTARA FOTO/Arnas Padda/rwa.
Foto: ANTARA/ARNAS PADDA
Jakarta -

Saat ini ada 7,9 miliar penduduk bumi dan jumlahnya terus bertambah. Bank Dunia memperkirakan bahwa jumlah ini akan terus bertumbuh mencapai 9,7 miliar pada tahun 2050 dan 11,2 miliar pada tahun 2100.

Dengan jumlah penduduk yang semakin meningkat, tidak dapat dipungkiri bahwa pertambahan kebutuhan pangan akan berakselarasi secara signifikan. Oleh karena itu, industri pertanian perlu mempertimbangkan penggunaan teknologi cryptocurrency dan blockchain demi mengejar pemenuhan kebutuhan pangan dunia dengan sistem produksi yang inovatif.

International Blockchain Olympiad, didirikan pada tahun 2017, adalah kompetisi global tahunan yang mengundang siswa seluruh dunia untuk menggali usulan solusi nyata bagi masalah dunia dengan memanfaatkan teknologi blockchain. Masalah produksi pertanian seperti di atas adalah salah satu contoh masalah dunia yang dapat terbantu dengan teknologi blockchain.

Collin Junus adalah siswa Indonesia pertama yang berhasil mencapai babak final dunia (satu dari dua belas finalis delegasi internasional) untuk mewakili Indonesia pada kompetisi International Blockchain Olympiad (IBCOL) tersebut yang terakhir kali diadakan pada Oktober 2021. Dalam kompetisi yang diikuti 1000 lebih siswa dari 60-an negara tersebut, pelajar Jakarta Intercultural School berusia 17 tahun ini mengangkat penelitian tentang teknologi blockchain dalam membantu meningkatkan proses operasi dan profitabilitas pertanian di negara berkembang seperti Indonesia.

Bekerja sama dengan Dr. Ir. Richard Mengko dari ITB (Institut Teknologi Bandung), dosen dan pakar bidang teknologi dan computer science, Collin melakukan penelitian tentang bagaimana Indonesia dapat menerapkan sistem blockchain untuk petani. Hal mana manajemen rantai pasok beras dikaitkan dengan integrasi Artificial Intelligence (AI) dan teknologi blockchain untuk efisiensi, produktivitas, dan profitabilitas.

Ia percaya bahwa teknologi blockchain dapat membantu sistem pertanian dengan tiga cara utama berikut:

1. Meningkatkan Efisiensi dan Pelacakan Rantai Pasokan

Teknologi blockchain memungkinkan pelacakan dan penelusuran informasi dalam rantai pasok makanan, sehingga meningkatkan keandalan dan ketersediaan pangan. Hal ini memungkinkan cara aman untuk menyimpan dan mengolah data, yang memfasilitasi pengembangan dan penggunaan inovasi berbasis data untuk pertanian pintar dan asuransi pertanian berbasis indeks pintar. Manajemen inventaris pertanian yang lebih transparan juga terbantu dengan teknologi blockchain.

Penggunaan teknologi blockchain pada pertanian juga dapat meningkatkan produktivitas. Akibat sistem human-to-human yang sering lambat dan tidak efisien, produktivitas biasanya menjadi tidak maksimal. Melalui teknologi blockchain dan sistem buku besar di mana semuanya transparan, biaya siklus tahunan pertanian dapat ditekan dan efisiensi hasil secara keseluruhan ditingkatkan.

2. Pinjaman mikro untuk petani kecil hingga menengah

Penggunaan luar biasa lainnya dari blockchain di bidang pertanian adalah alternatif bagi petani untuk mendapatkan pinjaman mikro. Petani kecil hingga menengah rata-rata membutuhkan pinjaman sesekali untuk mempertahankan dan menjalankan bisnis mereka.

Blockchain dapat membantu petani mendapatkan pinjaman mikro di jaringan pemberi pinjaman di seluruh dunia. Dengan blockchain, petani hanya menanggung beban biaya bunga yang kecil, sehingga membantu mereka mempertahankan dan menjalankan bisnis secara berkelanjutan.

3. Big Data

Big data memberikan para petani informasi yang dapat meningkatkan produktivitas produksi mereka. Misalnya, data tentang pola curah hujan, siklus air, dan kebutuhan pupuk sehingga dapat memungkinkan petani membuat keputusan yang lebih cerdas, seperti tanaman apa yang akan ditanam untuk mendapatkan keuntungan yang lebih baik dan kapan waktu panen. Hal ini pada akhirnya meningkatkan volume hasil pertanian dan keuntungan finansial mereka.

Dengan sifat kontrak pintar dalam blockchain, teknologi dibuat untuk memberikan keandalan dan keamanan database. Selain itu, karena teknologi blockchain terdesentralisasi dan terbuka, ini berarti data lebih dapat diakses oleh semua orang di dalam sistem.