Waspada! Sri Mulyani Sebut Inflasi RI Tertinggi Sejak April 2020

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Rabu, 20 Apr 2022 10:06 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Inflasi Indonesia Maret 2022 secara tahunan tercatat 2,64%. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan angka ini sudah harus diwaspadai.

Dia menyebutkan, angka inflasi ini juga masuk dalam tren global karena adanya masalah cuaca dan bahan pangan.

"Inflasi kita ini level tertinggi sejak April 2020. Ini karena adanya kenaikan harga global dan faktor cuaca," kata dia dalam konferensi pers APBN Kita, Rabu (20/4/2022).

Dia mengungkapkan, pemerintah terus berupaya untuk meredam dan waspada menjaga inflasi dengan operasi pasar, pengawasan distribusi dan penyediaan pasokan.

Selain itu institusi moneter juga berupaya untuk menjaga inflasi di Indonesia. Dia menambahkan dari sisi neraca perdagangan Indonesia masih mencatatkan surplus neraca perdagangan yang berturut-turut dan menimbulkan kekuatan resiliensi dari sisi eksternal.

Komoditas memberikan kontribusi signifikan ke neraca perdagangan tapi ada geliat kebijakan atau kegiatan ekonomi di sektor produksi yang mengalami kenaikan.

Impor bahan baku dan barang modal. Neraca pembayaran kita kembali menguat tren surplus kita sejak Mei 2022 ini timbulkan resiliensi dari sisi eksternal Indonesia.

Pemulihan terus berjalan dengan baik. Seiring dengan ekonomi masyarakat yang meningkat. Mobilitas masyarakat sangat tinggi secara konsisten pada kuartal I 2022 ini dan disertai kegiatan konsumsi mereka ritel sales indeks Indonesia tetap tinggi.

"Spending indeks yg diukur Bank Mandiri naik dan ada perbaikan sejak mengalami varian Omicron," jelas dia.

Sebelumnya Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan jika inflasi inti tetap terjaga di tengah permintaan domestik yang mulai meningkat, stabilitas nilai tukar yang terjaga, dan konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi.

Sementara itu, inflasi kelompok volatile food meningkat terutama dipengaruhi kenaikan inflasi minyak goreng seiring penyesuaian Harga Eceran Tertinggi (HET). Inflasi kelompok administered prices dipengaruhi oleh inflasi bahan bakar rumah tangga dan bensin karena penyesuaian harga LPG nonsubsidi dan BBM nonsubsidi, serta inflasi angkutan udara seiring dengan meningkatnya mobilitas masyarakat.

Inflasi 2022 diprakirakan tetap terkendali dalam sasaran 3,0%±1% sejalan dengan masih memadainya sisi penawaran dalam merespons kenaikan sisi permintaan, tetap terkendalinya ekspektasi inflasi, stabilitas nilai tukar Rupiah, serta respons kebijakan yang ditempuh Bank Indonesia dan Pemerintah. Bank Indonesia terus mewaspadai sejumlah risiko inflasi, terutama dampak kenaikan harga energi dan pangan global.

"Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) guna menjaga inflasi IHK dalam kisaran sasarannya. Koordinasi dengan Pemerintah tersebut juga diperkuat untuk menjaga stabilitas harga selama bulan Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 1443H," jelas dia.



Simak Video "Sri Mulyani Targetkan Ekonomi RI Tumbuh 5,9%, Inflasi Maksimal 4%"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/das)