ADVERTISEMENT

Pasokan Minyak Bunga Matahari Menipis, Eropa Jadi Doyan Minyak Sawit

Kholida Qothrunnada - detikFinance
Minggu, 24 Apr 2022 17:30 WIB
Kuaci Biji Bunga Matahari
Foto: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Uni Eropa (UE) tengah menghadapi kekurangan minyak bunga matahari (sunflower oil). Invasi Rusia ke Ukraina disinyalir telah menghalangi kegiatan ekspor dari pemasok utamanya, yaitu Ukraina.

Dikutip dari Reuters, (Minggu (24/4/2022), Kelompok Industri Minyak Nabati dan Protein Meal Eropa (FEDIOL) mengungkapkan, perang telah menghentikan pengiriman minyak bunga matahari Ukraina ke UE, yang biasanya mewakili sekitar 200.000 ton per bulan.

Penyulingan minyak bunga matahari UE mengambil 35% hingga 45% dari Ukraina. Stok yang tersedia di UE diperkirakan hanya mencakup 4 hingga 6 minggu.

"Di luar periode itu, kemungkinan kurangnya ketersediaan minyak bunga matahari mentah dan alternatif yang terbatas, akan menyebabkan kekurangan minyak bunga matahari olahan atau botol di pasar Eropa. Ini akan dirasakan hingga ke tingkat konsumen," kata FEDIOL dalam sebuah pernyataan, dikutip dari pemberitaan Reuters yang tayang pada (4/3/2022) lalu.

Minyak bunga matahari adalah minyak utama yang digunakan untuk memasak. Sesuai dengan namanya, minyak tersebut diperoleh dari olahan tanaman biji bunga matahari.

Diketahui, Ukraina dan Rusia menyumbang sekitar 80% dari ekspor produk global. Alhasil dengan keadaan ini membuat importir, seperti UE dan India harus mencari alternatif tersendiri.

Untuk itu, para produsen di UE berusaha mengurangi dampak perang, dengan mengalihkan volume terbatas minyak bunga matahari yang ditujukan untuk bahan bakar biodiesel ke pasar makanan. Produsen juga akan menggunakan tambahan produk lain seperti minyak lobak, minyak kedelai dan minyak tropis.

Misalnya, produsen biskuit asal Italia, Barilla yang menghapus label 'senza olio di palma' atau 'bebas minyak sawit' dalam kemasannya. Penghapusan label tersebut, karena Barilla telah menggunakan minyak sawit dalam proses produksinya.

Guru besar John Cabot University Roma Pietro Paganini mengatakan kekurangan minyak bunga matahari mendorong banyak produsen dan pengolah makanan, untuk memformulasi ulang produknya dengan minyak yang berbeda.

"Beberapa di antaranya kembali ke minyak sawit setelah mereka meninggalkannya antara 2016 dan 2018 dan setelah mereka memboikotnya," kata Paganini ditulis Rabu (13/4/2022).

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT