ADVERTISEMENT

Crazy Rich India Gautam Adani Rebut Posisi Ke-5 Orang Terkaya Dunia dari Warren Buffett

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 26 Apr 2022 19:30 WIB
Gautam Adani
Foto: Dok. Forbes
Jakarta -

Crazy Rich asal India Gautam Adani baru saja merebut posisi ke-5 orang terkaya di dunia. Ia berhasil menggeser posisi investor veteran Warren Buffett yang sebelumnya menempati posisi tersebut.

Melansir dari Forbes Real Time Billionaire, Selasa (26/4/2022), diperkirakan bahwa sekarang ini Adani yang berusia 59 tahun memiliki kekayaan bersih US$ 125,3 miliar atau setara dengan Rp 1.791,79 triliun (kurs Rp 14.300/dolar AS).

Adapun keberhasilan Adani dalam meraih posisi ke-5 orang terkaya di dunia ini didorong oleh kenaikan yang luar biasa terhadap saham perusahaannya sejak awal bulan ini.

Bahkan berdasarkan laporan Forbes Real Time Billionaire ini, pada hari ini nilai kekayaan yang dimiliki oleh Adani ditaksir telah meningkat sebanyak US$ 2,2 miliar atau 1,75%.

Perlu diketahui bahwa Adani sendiri merupakan seorang pendiri dan ketua dari Adani Group. Adapun grup perusahaan yang dimilikinya ini bergerak di berbagai bidang mencakup infrastruktur, komoditas, pembangkit listrik dan transmisi, serta real estat.

Perusahaannya diketahui juga bergerak di bidang operasional pelabuhan. Saat ini Adani merupakan operator pelabuhan terbesar di India, Pelabuhan Mundra, yang terletak di negara bagian asalnya, Gujarat.

Tidak berhenti di sana, sebelumnya Adani juga sudah mengakuisisi 74% saham di Bandara Internasional Mumbai, bandara tersibuk kedua di India, pada September 2020. Membuat dirinya menjadi operator bandara terbesar di negara itu.

Selain itu Adani juga memiliki Abbot Point, sebuah proyek pertambangan batu bara kontroversial di Australia yang tambang batu bara Carmichael-nya disebut-sebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia. Butuh sembilan tahun bagi Adani untuk mendapatkan semua persetujuan agar bisa menjalankan proyek ini.

Kini dia mengatakan keinginannya untuk menjadi produsen energi hijau terbesar di dunia, dengan tujuan menginvestasikan hingga US$ 70 miliar ke dalam proyek energi terbarukan.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT