Warga Desa Yakin Mau Adu Nasib ke Kota? yang Nganggur Aja Masih Banyak

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 06 Mei 2022 13:20 WIB
Infografis jumlah pengangguran di Indonesia
Foto: Infografis detikcom/M Fakhry Arrizal
Jakarta -

Urbanisasi besar-besaran atau perpindahan penduduk dari desa ke kota merupakan fenomena yang lumrah terjadi khususnya usai Lebaran. Biasanya mereka memiliki tujuan untuk meningkatkan taraf hidup di kota besar yang jadi pusat ekonomi.

Sekretaris Jenderal Organisasi Pekerja Seluruh Indonesia (OPSI), Timboel Siregar mengatakan fenomena urbanisasi membuat persaingan pencarian lapangan kerja akan semakin sulit usai Lebaran. Pengangguran di pusat kota harus bersaing lebih keras lagi karena ada tambahan pesaing dari desa.

"Jakarta sekarang tidak melakukan pembatasan lagi jadi akan membuka banyak orang datang. Kalau dulu mungkin belum ada COVID, mereka tetap bekerja, nah datang yang baru ini cari pekerjaan. Tapi kalau sekarang kan stok orang pengangguran masih banyak, datang lah mereka. Jadi yang pengangguran dengan yang dari desa bersaing lebih banyak lagi," kata Timboel kepada detikcom, Jumat (6/5/2022).

Meski pemulihan ekonomi sedang berlangsung dan mulai tercipta pembukaan lapangan kerja, pekerja yang terkana pemutusan hubungan kerja (PHK) banyak yang belum dipekerjakan kembali. Timboel berpandangan bahwa lapangan kerja yang ada akan diprioritaskan terlebih dahulu untuk mereka, ketimbang pekerja dari desa.

"Saya khawatir urbanisasi akan jadi penonton yang susah dapat kerjaan. Kalau pun ekonomi kita sekarang membaik, pasti yang di-PHK yang didulukan karena mereka yang selama ini bekerja, punya pengalaman," tuturnya.

"Kalau pun mereka datang, mereka akan sulit. Pandemi bikin yang menganggur banyak, ketika meningkat lagi ekonomi, mereka yang akan diutamakan. Yang dari wilayah ini akan termarjinalkan dan kemungkinan mereka susah mengakses pekerjaan," tambahnya.

Imbasnya jumlah pengangguran terbuka di kota akan semakin besar lagi. Hal itu, kata Timboel, akan mempengaruhi kenaikan upah minimum.

"Kan gini, rata-rata konsumsi dikali jumlah rata-rata orang yang bekerja dibagi jumlah rata-rata orang yang ada dalam suatu keluarga. Kalau kartu keluarganya semakin besar, yang bekerja sedikit, artinya rasionya akan kecil. Kalau dikalikan nanti dengan inflasi atau pertumbuhan ekonomi dikali rasio dikali upah minimum berlaku, itu akan lebih kecil lagi karena penyebutnya akan besar. Ini juga sebenarnya kalau dari sisi perburuhan akan menurunkan peningkatan upah minimum," jelas Timboel.

(aid/dna)