Inflasi Turki Meroket Nyaris 70%, Kena Getah Perang Rusia-Ukraina

Aldiansyah Nurrahman - detikFinance
Sabtu, 07 Mei 2022 13:30 WIB
Turkeys President Recep Tayyip Erdogan looks up during a joint news conference with German Chancellor Angela Merkel following their meeting at Huber Villa presidential palace, in Istanbul, Turkey, Saturday, Oct. 16, 2021. The leaders discussed Ankaras relationship with Germany and the European Union as well as regional issues including Syria and Afghanistan. (AP Photo/Francisco Seco)
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan/Foto: AP/Francisco Seco
Jakarta -

Inflasi Turki melonjak hampir 70% atau persisnya 69,97% pada April. Ini merupakan yang tertinggi dalam dua dekade terakhir.

Meroketnya inflasi di Turki didorong konflik Rusia-Ukraina yang membuat kenaikan harga energi dan komoditas setelah jatuhnya lira tahun lalu.

Melemahnya mata uang Turki itu dipicu oleh siklus pelonggaran suku bunga hingga 500 basis poin yang dimulai September lalu atas persetujuan Presiden Recep Tayyip Erdogan yang memicu lonjakan harga hingga saat ini.

Mengutip CNN, Sabtu (7/5/2022), Institut Statistik Turki mencatat inflasi bulanan sebesar 7,25%. Secara tahunan, inflasi Turki diperkirakan sebesar 68%.

Pemicu lonjakan harga konsumen adalah naiknya harga di sektor transportasi sebesar 105,9% secara tahunan, termasuk harga energi. Selain itu, harga makanan dan minuman non-alkohol naik 89,1%.

Sementara, secara bulanan harga makanan dan minuman non-alkohol menjadi komponen penyumbang inflasi tertinggi sebesar 13,38% dan harga rumah naik 7,43%.

Pemerintah mengatakan inflasi Turki akan turun di bawah program ekonomi baru yang memprioritaskan suku bunga rendah untuk meningkatkan produksi dan ekspor dengan tujuan mencapai surplus transaksi berjalan. Namun, para ekonom melihat inflasi akan tetap tinggi hingga akhir 2022 karena perang di Ukraina.

Simak juga 'Restoran Burger di Kiev Ini Tetap Buka di Tengah Perang':

[Gambas:Video 20detik]



(ara/ara)