Rusia Kala Dihajar Sanksi Bertubi-tubi: Pengangguran Besar Hingga Resesi

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 11 Mei 2022 08:27 WIB
Rusia merayakan hari kemenangan atas Nazi Jerman pada 1945. Perayaan yang dimeriahkan dengan parade militer itu juga dihadiri oleh Presiden Rusia Vladimir Putin.
Foto: Anton Novoderezhkin, Sputnik, Kremlin Pool Photo via AP
Jakarta -

Rusia sepintas terlihat mampu menangkis keruntuhan ekonominya saat dijatuhkan sanksi dari berbagai negara. Mata uang Rusia dikabarkan meningkat atau kembali ke posisi sebelum adanya perang.

Namun, prediksi dari ekonom dan para ahli berbeda. Mereka memperingatkan ekonomi Rusia ke depan masih penuh dengan ancaman, apa lagi sanksi dari negara-negara lain masih menggentayangi Rusia.

Ekonom BlueBay Asset Management, Timothy Ash mengatakan sanksi yang dijatuhkan ke Rusia secara keseluruhan jauh lebih agresif daripada yang diperkirakan. Ekonomi Rusia disebut bisa terancam Resesi.

"Saya pikir dampak jangka panjangnya akan menghancurkan. Rusia terputus dari rantai pasokan Barat karena merupakan mitra yang tidak dapat diandalkan. Ini akan mendorong negara itu ke dalam resesi," jelasnya, mengutip dari BBC, Rabu (11/5/2022).

"Kenyataannya adalah, Rusia akan mengalami keterbatasan akses ke pasar keuangan, pertumbuhan yang lebih rendah, standar hidup yang lebih rendah, dan biaya pinjaman yang lebih tinggi," tambah Ash.

Kemudian, Wakil kepala ekonom di Institute of International Finance, Elina Ribakova, mengatakan ancaman terhadap keruntuhan ekonomi Rusia ini tentu karena sanksi. Seperti saat ini masih banyak perusahaan Rusia yang terdampak akibat sanksi yang diberikan barat.

Misalnya pembuat baja Rusia, produsen kimia dan perusahaan mobil telah merasakan beban sanksi yang ditujukan untuk melumpuhkan upaya perang Presiden Putin.

Menurut survei bank sentral terhadap lebih dari 13.000 bisnis, banyak bisnis yang mengalami kekurangan bahan baku mulai dari microchip hingga suku cadang mobil. Kekurangan suku cadang itu memaksa beberapa perusahaan sementara menutup pabrik.

Seperti produsen mobil Jepang Toyota, menghentikan impor mobil ke Rusia dan menghentikan operasi di pabriknya di St Petersburg pada Maret. Alasannya karena mengalami gangguan rantai pasokan, hal itu imbas perang Rusia dan Ukraina.

Belum lagi, banyak merek-merek besar telah menghentikan operasinya. Merek-merek seperti McDonald's dan Levi's, terus membayar ribuan karyawan Rusia, meskipun menghentikan operasi di negara itu.

Berhentinya banyak perusahaan dari Rusia mengancam pasar tenaga kerja. Walikota Moskow Sergey Sobyanin pernah melaporkan, ada sekitar 200.000 pekerjaan berisiko di kota. Tingkat pengangguran di seluruh Rusia dapat melonjak menjadi 7% pada tahun 2024.



Simak Video "Dubes Lyudmila Pertanyakan Respon dan Sanksi Yang Diterima Rusia"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)