Harga TBS Turun Drastis, Petani Sawit: Kami Sekarat

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 17 Mei 2022 14:18 WIB
Workers load palm oil fresh fruit bunches to be transported from the collector site to CPO factories in Pekanbaru, Riau province, Indonesia, April 27, 2022. REUTERS/Willy Kurniawan
Foto: REUTERS/WILLY KURNIAWAN
Jakarta -

Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) bersama forum mahasiswa sawit menggelar aksi keprihatinan petani sawit di depan kantor Kementerian Kantor Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Selasa (17/5/2022).

Petani sawit menuyuarakan tuntutannya dan meminta pemerintah mencabut larangan ekspor Crude Palm Oil (CPO).

Gulat Manurung, ketua APKASINDO menyatakan petani sawit Indonesia sedang sekarat.

"Kami dalam kondisi sekarat. Pabrik tidak ada lagi yang mau membeli TBS kami," kata Gulat.

Gulat menerangkan pasokan minyak goreng melimpah di pabrik-pabrik. Hanya saja distribusinya terhambat dan tidak tersalurkan ke masyarakat. Akibatnya pabrik tidak mau membeli Tandan Buah Segar (TBS) dan membuat harganya jatuh.

"Rp 600 sampai Rp 1.200 per kilo," kata Gulat menjelaskan anjloknya harga TBS saat ini. Menurutnya harga TBS seharusnya sudah menyentuh Rp 4.500.

Gulat membandingkan hargaTBS dengan Malaysia. Harga TBS di Malaysia sudah menyentuh Rp 6.500, sangat berbeda dengan di Indonesia.

Selain harga yang turun drastis, petani sawit khawatir dengan stok TBS di penyimpanan. Banyak TBS akan busuk yang semakin kondisu mereka.

Petani sawit menganggap Kemenko tidak mampu menyelesaikan masalah ini. Karena itu mereka berharap Presiden Joko Widodo (Jokowi) turun tangan dan berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan.

Tuntutan utama petani sawit adalah pencabutan Pemendag Nomor 22 tahun 2022 tentang larangan ekspor CPO cs. Rencananya petani sawit akan menyambangi istana presiden siang ini.

Lihat juga video 'Protes Larangan Ekspor CPO, Petani Sawit Geruduk Kantor Menko Perekonomian':

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)