Bisnis Tes Swab Riwayatmu Kini

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Kamis, 19 Mei 2022 08:00 WIB
Tenaga kesehatan melakukan tes swab antigen kepada warga di Gg Bahagia, Kel Gerendeng, Kec Karawaci, Tangerang. Upaya ini sebagai tracing atau pelacakan untuk menekan penyebaran COVID-19.
Foto: Andhika Prasetia
Jakarta -

Layanan tes swab yang dulu ramai pengunjung dengan harga setinggi langit kini berangsur-angsur redup bahkan terjepit. Hal ini terjadi karena angka penurunan kasus COVID-19 kian hari kian menurun ditambah dengan kebijakan pelonggaran syarat perjalanan dan penggunaan masker yang berlaku mulai hari ini, Rabu (18/05/2022).

"Pandemi mulai berkurang, angka kematian mulai menurun, mulai tumbuh optimisme dalam masyarakat. Akhirnya tempat-tempat tes swab mulai kosong," ujar Akademisi dan Praktisi Bisnis, Rhenald Kasali kepada detikcom, Rabu (18/05/2022).

Optimisme itu mendatangkan dua kebijakan baru dari pemerintah, antara lain pelonggaran penggunaan masker di area terbuka dan pelonggaran syarat perjalanan tanpa tes swab, mengakibatkan bisnis tersebut kian surut.

Menurut Rhenald, bisnis tes swab akan meredup dan berkemungkinan untuk mati. Hal tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara-negara lainnya.

Rhenald juga menambahkan bahwa saat ini yang dicari masyarakat bukan semata-mata pengobatan, tetapi sudah sampai di tahap peningkatan imunitas. Pembicaran tentang imun meningkat, dan bagaimana cara imun dapat terpenuhi dan masyarakat mendapat kekebalan.

Rhenald mengatakan bahwa bisnis-bisnis yang terkena gelombang pandemi memang dituntut untuk selalu beradaptasi dengan cepat sehingga ia yakin bisnis tersebut masih bisa berkembang dan berinovasi setelah kondisi pandemi berubah dan kebutuhan layanan kesehatan masih menjadi salah satu yang utama.

"Sebetulnya karakter bisnis setelah pandemi berubah. Semua pelaku usaha harus selalu beradaptasi dengan cepat. Hampir semua yang memiliki usaha masker bukanlah usaha penuh, melainkan usaha sambilan. Mereka melihat peluang dan mendirikan bisnis tambahan, yang biasanya masih terintegrasi dengan peluang usaha lainnya," ujar dia.

Menurutnya, yang perlu disoroti ialah para pegawai dari bisnis tersebut. Di mana para pegawai punya keahlian di bidang tertentu seperti swaber. Pun demikian mereka harus mencari pekerjaan baru lagi.

Dilema tersebut dirasakan oleh salah satu tenaga medis atau swaber di salah satu klinik layanan tes swab di daerah Buncit, Nila. Nila mengatakan bahwa dia baru mendengar kabar mengenai kebijakan baru Jokowi yang telah melonggarkan kewajiban penggunaan masker dan juga syarat perjalanan.

"Di satu sisi bagus sekali ya sekarang kondisinya sudah berangsur membaik. Di sisi lain, kami yang bekerja sebagai swaber perlu memikirkan setelah ini akan bagaimana," ujar Nila.

Nila merupakan salah satu dari sekian banyak tenaga medis yang dikontrak khusus untuk menjadi swaber dan tidak terikat sebagai pegawai rumah sakit.

"Kalo rekan saya ini dia lulusan keperawatan dan sudah menjadi pegawai rumah sakit JMC. Sedangkan saya lulusan SMK dan ditarik untuk membantu di klinik sebagai tenaga kesehatan," ujar dia.

Para tenaga medis yang hanya terikat kontrak sementara perlu mendapat sorotan juga dukungan, mengingat mereka lah yang sebenarnya terkena dampak paling besar dari perubahan kondisi pandemi menuju endemi ini.

Bersambung ke halaman selanjutnya.