Di Forum Ekonomi Dunia, Airlangga Ungkap 'Momen Emas' Investasi di RI

Yudistira Perdana Imandiar - detikFinance
Selasa, 24 Mei 2022 09:09 WIB
Airlangga di World Economic Forum
Foto: Kemenko Bidang Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto hadir di World Economic Forum (WEF) yang diselenggarakan di Davos, Swiss pada 22-26 Mei. Pada agenda tersebut, Airlangga menyampaikan kondisi ekonomi Indonesia yang semakin membaik serta mengajak para investor untuk berinvestasi di Indonesia.

Airlangga menjabarkan ekonomi Indonesia tumbuh 5,01% (yoy) pada kuartal pertama tahun 2022 dan tercapai seiring dengan laju inflasi yang terkendali. Selain itu, kondisi pandemi COVID-19 yang terus membaik juga menjadi faktor pendorong penguatan ekonomi nasional.

"Indonesia adalah salah satu negara dengan ekonomi terbesar di dunia, dan saat ini adalah momen emas untuk berinvestasi di Indonesia," kata Menko Airlangga dikutip dalam keterangan tertulis, Selasa (24/5/2022).

"Kondisi pandemi di Indonesia saat ini juga telah membaik, atas arahan Presiden Joko Widodo, masyarakat sudah bisa mulai melepaskan masker di ruangan terbuka yang tidak dalam keramaian. Ini merupakan salah satu langkah awal transisi dari pandemi ke endemi," tutur Airlangga.

Airlangga mengungkapkan Presiden Joko Widodo menjadi Champion Global Crisis Response Group (GCRG) yang berfokus pada isu pangan, energi, dan keuangan. Hal ini disebutnya menjadikan Indonesia juga turut berperan penting dalam mengatasi tantangan besar yang saling terkait dalam ketahanan pangan, energi, dan keuangan global akibat konflik Rusia- Ukraina.

Ia pun mengulas terkait Presidensi G20 Indonesia yang mengusung tiga agenda utama yakni arsitektur kesehatan global, transformasi ekonomi berbasis digital, dan transisi energi.

"Dalam arsitektur kesehatan global, Indonesia mengusulkan untuk menciptakan mekanisme pembiayaan yang bisa mendukung tersedianya vaksin untuk negara-negara yang membutuhkan. Hal ini penting karena saat ini pandemi COVID-19 masih belum selesai dan masih ada negara-negara, terutama di Afrika, yang belum memiliki akses yang luas dalam mendapatkan vaksin seperti negara-negara berkembang lainnya," papar Airlangga.

Terkait dengan transformasi ekonomi berbasis digital, ia menerangkan digitalisasi di Indonesia telah meningkat tajam selama pandemi. Perkembangan ekonomi digital di Indonesia pada tahun 2021 dapat terlihat dari transaksi komersial yang mencapai lebih dari US$27 miliar dan dengan lebih dari 2.300 startup. Hal itu menempatkan Indonesia sebagai negara ke-5 di dunia dengan jumlah startup terbanyak.

Selain itu, lanjut Airlangga, Indonesia memiliki 370 juta pengguna koneksi seluler dan 204 juta pengguna internet (74% dari total populasi). Nilai transaksi uang elektronik juga tercatat telah melebihi US$ 2,4 miliar per Desember 2021. Tingkat inklusi keuangan di 2019 mencapai sebesar 76,19% dan ditargetkan akan mencapai 90% pada 2025, kemudian juga terdapat 785 juta bisnis fintech pada 2021.

Adapun terkait transisi energi, Airlangga menyampaikan Indonesia berkomitmen dalam bertransisi menggunakan Energi Baru Terbarukan (EBT). Saat ini Indonesia sedang mengembangkan prototipe pajak karbon untuk pembangkit listrik tenaga batu bara, dan juga melakukan retirement pembangkit listrik tenaga batu bara untuk menggantinya dengan EBT yang mempunyai model pembiayaan yang terjangkau dan berkelanjutan.

"Salah satu yang menjadi penting dalam transisi energi ini adalah tentang bagaimana menyiapkan pendanaannya melalui mekanisme blended finance dan mengembangkan protokol obligasi transisi sebagai peluang untuk memberikan pembiayaan kepada perusahaan yang memiliki target transisi ke industri hijau di masa depan. Kita tidak bisa melakukan transformasi tanpa pembiayaan yang memadai," ujar Menko Airlangga.



Simak Video "Jokowi Singgung Capaian WHO: Kita Perlu Solusi Permanen"
[Gambas:Video 20detik]
(ncm/ang)