Konon Landa Startup, Apa Itu Fenomena Bubble Burst?

Anisa Indraini - detikFinance
Minggu, 29 Mei 2022 16:30 WIB
Ilustrasi PHK
Foto: Ilustrasi PHK (Tim Infografis: Zaki Alfarabi)
Jakarta -

Ledakan gelembung atau bubble burst sedang ramai diperbincangkan di Indonesia. Hal itu disinyalir sebagai penyebab para perusahaan rintisan (startup) mulai melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada para karyawannya.

Dilansir dari Investopedia, Minggu (29/5/2022), bubble burst adalah pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan nilai pasar naik sangat cepat, terutama pada harga aset. Di sisi lain, inflasi yang cepat itu kemudian diikuti oleh penurunan nilai yang cepat juga atau kontraksi.

Itulah yang kemudian disebut sebagai bubble burst atau ledakan gelembung. Biasanya, gelembung yang disebabkan lonjakan harga aset didorong oleh perilaku pasar yang tinggi.

Aset biasanya diperdagangkan pada harga atau dalam kisaran harga yang jauh melebihi nilai intrinsik aset. Dengan kata lain, harga tidak selaras dengan dasar aset.

Bubble burst terjadi setiap kali harga barang naik jauh di atas nilai riil barang tersebut. Fenomena ini biasanya dikaitkan dengan perubahan perilaku investor.

Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute Heru Sutadi mengatakan kondisi ini didorong fakta sulitnya startup mencari pendanaan saat ini. Sementara untuk meraih pengguna, rata-rata startup harus melakukan 'bakar uang'.

"Pendanaan ke sini juga kian sulit, apalagi untuk layanan yang sudah melewati fase pertumbuhannya seperti e-commerce, pembayaran digital, travel dan edukasi, digantikan dengan arah baru startup yang mengusung kecerdasan buatan, big data analytic, internet of things, maupun metaverse," kata Heru kepada detikcom, ditulis Minggu (29/05/2022).

Heru menambahkan bahwa saat ini memang banyak startup sudah membuktikan keuntungan konsisten, tetapi perjalanan masih berat karena ada pengembalian pendanaan kepada investor. Dengan adanya kondisi tersebut, PHK jadi salah satu pilihan dan solusi bagi para startup untuk bertahan.

"LinkAja, Zenius, memang cukup berat karena pemain utamanya sudah jauh di depan. Kalau mau maju harus kuat bakar uang," tuturnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.