ADVERTISEMENT

Ironi Harga Sayur Mahal Padahal RI Negara Agraris

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Minggu, 29 Mei 2022 20:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono

Mengalami nasib yang sama, pedagang lainnya, Mba Sum juga ikut mengeluh dengan fenomena ini.

"Waktu itu saja saya sempat beli sampai Rp 65.000 cabai. Itu harga belinya loh, jualnya berapa. Sekarang sudah turun lagi kemudian naik lagi," ujar Sum.

Sum menambahkan bahwa dirinya juga mempertanyakan mengenai kenaikan harga ini kepada pasar induk dan para distributor tetapi belum mendapatkan jawaban.

"Itu saya sedang bertanya terus ini kok habis lebaran malah tambah naik ini. Tapi belum dapat jawaban," tutur dia.

RI Negara Agraris

Kondisi di atas sungguh ironi. Bagaimana tidak, Indonesia sebenarnya merupakan negara dengan juluk negara agraris. Predikat itu didapat karena Indonesia memiliki potensi pertanian yang begitu besar.

Melansir dari buku 'Wahana IPS' wilayah-wilayah di negara ini yang kaya hasil pertanian adalah di Karawang dan Cianjur (Jawa Barat), Madura, Jombang (Jawa Timur), Banjarnegara dan Kebumen (Jawa Tengah), Provinsi Bali, dan beberapa daerah di Pulau Sumatera.

Beberapa hasil sektor pertanian Indonesia antara lain padi, ketela, ubi, kentang, sayuran, kacang-kacangan, dan sebagainya. Pada masa panen, biasanya para petani membawa hasil panennya ke kota untuk dijual.

Negara agraris yang kaya akan tanah yang subur dan produk-produk pertanian unggulan itu kini menuai tanda tanya besar. Bagaimana bisa dengan potensi sebesar itu, harga sayur mayur justru malah semakin tinggi hingga mengusik kesejahteraan rakyat?


(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT