ADVERTISEMENT

Airlangga Klaim Kartu Prakerja Mau Ditiru Negara Lain

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 17 Jun 2022 21:15 WIB
Airlangga Hartarto
Airlangga Klaim Kartu Prakerja Mau Ditiru Negara Lain/Foto: Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Program Kartu Prakerja yang dinilai berhasil mencuri perhatian dunia. Program yang digagas Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu dianggap bisa menjadi percontohan dan diterapkan di negara-negara berkembang lainnya.

Hal itu disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam acara Temu Raya Alumni Kartu Prakerja di Sentul International Convention Centre (SICC), Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/6/2022).

"Dalam pertemuan di Davos menteri dari Belanda dengan perdana menteri juga mengatakan bahwa Kartu Prakerja bisa direplikasi di negara-negara berkembang yang lain," kata Airlangga.

Airlangga menyebut bahwa Kartu Prakerja adalah salah satu program Government to people (G2P) paling masif yang pernah ada dibandingkan di negara lain.

Di hadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Airlangga melaporkan bahwa Kartu Prakerja dipilih sebagai program yang digunakan untuk menghadapi tantangan pekerjaan ke depan yang terkait transformasi digital, hingga ekonomi hijau yang membutuhkan orang yang ingin terus belajar. Perbincangan itu terjadi dalam pertemuan UNESCO di Marrakesh.

"Dari hampir seluruh negara yang memaparkan, yang paling siap dan sudah operasional insyaallah dari Indonesia melalui Kartu Prakerja," ujarnya.

Berdasarkan paparannya, Airangga menuturkan sudah 12,8 juta peserta Kartu Prakerja dengan 95% telah menerima insentif. Program ini telah dinikmati di 514 kabupaten/kota se-Indonesia.

Lebih rinci dijelaskan 56% peserta Kartu Prakerja tinggal di desa, 49% di antaranya adalah perempuan dan sekitar 3% adalah penyandang disabilitas.

Menurutnya, keberhasilan program Kartu Prakerja adalah menggabungkan supply dan demand di mana seluruhnya dibentuk dalam ekosistem yang terus bergerak secara dinamis menggunakan database dan Artificial Intelligence (AI).

Kartu Prakerja didukung oleh 171 lembaga pelatihan, 6 platform digital, 6 mitra pembayaran, 3 portal kerja, dan 8 perguruan tinggi sebagai penilai dan pemantau. Sebanyak 30% alumni yang sebelumnya menganggur disebut telah bekerja atau berwirausaha, dan 90% terjadi peningkatan kompetensi, produktivitas, serta daya saing.

"Pasar yang dibentuk dari pelatihan Kartu Prakerja selama dua tahun adalah pasar pelatihan yang nilainya sekitar Rp 6 triliun dalam 1 tahun. Sebelum ada program Kartu Prakerja pasar itu kosong, tidak ada pasar yang menangani digital education," ujarnya.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT