Menguak Asal Usul Kata Thrifting

ADVERTISEMENT

Menguak Asal Usul Kata Thrifting

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Minggu, 19 Jun 2022 11:30 WIB
Thrifting atau berburu pakaian bekasi tengah jadi tren di kalangan anak muda. Salah satu pusat thrifting yang terkenal di kawasan Jakarta adalah Pasar Senen.
Foto: Ilyas F/detikcom
Jakarta -

Budaya thrifting alias belanja barang atau pakaian bekas telah berkembang sejak lama. Sebelum jadi tren bagi anak-anak muda zaman sekarang, kata thrifting sendiri sudah ada sejak tahun 1300-an di Inggris.

Dirangkum dari berbagai sumber, thrifting secara etimologi berasal dari kata bahasa Inggris yang artinya hemat. Kata-kata itu muncul di tahun 1300-an. Asal-usulnya dapat dilihat sebagai penggunaan sumber daya dengan hati-hati untuk mencapai kemakmuran.

Maknanya berubah dari waktu ke waktu, hingga menjadi membeli barang bekas sebagai upaya menghemat pengeluaran untuk membeli suatu barang.

Di sekitar awal 1900-an, upaya jual beli barang bekas dengan membuka thrift shop mulai menjadi tren. Namun awalnya toko-toko itu dibuka untuk mengumpulkan uang dalam rangka amal dan organisasi nonprofit.

Toko-toko ini menjual barang-barang sumbangan dari orang-orang di sekitar komunitas mereka. Orang dapat memberikan donasi barang bekas ke thrift shop. Mereka biasanya menerima sumbangan seperti pakaian, furnitur, sepatu, mainan, elektronik, dekorasi rumah, dan sebagainya.

Kala itu biasanya kelompok pelayanan yang dibuat Gereja Kristen mulai mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual dan mencoba mendanai program amal.

Penjualan barang bekas, khususnya pakaian bekas, juga didorong oleh adanya revolusi industri. Di mana pakaian-pakaian makin banyak diproduksi, masyarakat berkecukupan bisa membelinya. Sejalan dengan itu, limbah pakaian pun bertambah karena banyak orang memilih membuang pakaiannya bila sudah tidak ingin memakainya.

Sejak saat itu, jual beli barang dan pakaian bekas menjadi tren, meskipun pembeli belanja pakaian bekas mendapatkan stigma 'orang miskin dan tak punya uang'.

Tapi semua berubah ketika depresi ekonomi terjadi. Permintaan sangat tinggi untuk barang-barang bekas yang harganya lebih murah membuat toko barang bekas yang ada pada saat itu tidak dapat memenuhinya.

Sejak saat itu bermunculan lah banyak toko barang dan pakaian bekas yang baru. Hal itu terus berkembang hingga saat ini.

(hal/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT