ADVERTISEMENT

Liputan Khusus

Jadi Manusia Silver Modal Rp 25.000/Minggu, Pendapatannya Berapa?

Aulia Damayanti - detikFinance
Minggu, 03 Jul 2022 21:00 WIB
Pandemi Covid-19 mempengaruhi semua aspek kehidupan, kesehatan hingga ekonomi. Tapi di sisi lain muncul profesi baru, di antaranya badut dan manusia silver, Minggu, 3/7/2022.
Foto: Aulia Damayanti
Jakarta -

Manusia silver sempat tenar dan mencuri perhatian masyarakat pada awal pandemi. Hal itu diakui oleh Anto, salah satu manusia silver di perempatan Ciledug, dekat dengan CBD Ciledug Tangerang.

Anto bercerita dirinya menjadi manusia silver pada awal pandemi COVID-19 melanda Indonesia, yakni 2020. Awalnya, dirinya bekerja sebagai sopir angkutan kota (angkot). Namun, saat itu karena adanya pembatasan aktivitas masyarakat, transportasi umum pun sepi penumpang.

Kemudian, ada salah satu teman Anto yang menjadi manusia silver dan menawarkannya untuk bergabung. Anto saat itu tergiur karena menjadi manusia silver dengan modal sedikit, tetapi penghasilannya lebih dari supir angkot.

"Awalnya saya tanya ke teman saya itu 'Ko lo begitu, keren banget'. Lalu dia bilang 'Lo ngapain narik angkot mendingan ngamen aja'. Memang dikasih tahu penghasilannya, kata saya 'wah lumayan'. Coba tuh awal-awal, silvernya masih pakai punya dia. Tadinya saya belum bisa pakai sendiri," tutur Anto saat ditemui detikcom.

Modal untuk menjadi manusia silver hanya cat bahan baku sablon dan minyak goreng. Menurut Anto jika dijumlahkan, dirinya hanya mengeluarkan modal Rp 25 ribu per minggu.

"Modal minyak goreng sama cat bahan baku sablon, pakai minyak goreng makanya dia mengkilap. Modal Rp 25 ribu, itu minim-minim untuk 6 kali pemakaian," tuturnya.

Nah ketika awal pandemi akhirnya Anto banting stir menjadi manusia silver, ia mengaku mendapatkan uang sehari bisa Rp 300.000. Padahal modal hanya Rp 25 ribu.

"Awal-awal pandemi saya akui bisa dapat Rp 300.000, itu karena masih ramai ya orang-orang," ujarnya.

Namun, kini menurut Anto orang sudah mulai bosan dengan traksi manusia silver, pendapatannya juga menurun. Paling ramai hanya mendapatkan Rp 100 ribu per hari. Meski begitu, Anto mengatakan sempat juga hanya mendapatkan Rp 15 ribu-20 ribu.

"Jadi kalau sedang ramai ya kita sisihkan tetap, selembar-selembar juga ditabung. Karena kita nggak tahu, kita punya anak, nggak tahu kondisi badan kita gimana nanti," ujarnya.

Bersambung ke halaman selanjutnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT