ADVERTISEMENT

Inflasi RI Tertinggi Sejak 2017, Kemenkeu Bandingkan dengan AS Hingga Turki

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 04 Jul 2022 15:01 WIB
Gedung Prijadi Praptosuhardjo, Kementrian Keuangan
Inflasi RI Tertinggi Sejak 2017, Kemenkeu Bandingkan dengan AS Hingga Turki/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) buka suara soal inflasi Indonesia yang tembus 4,35% (year on year/yoy) pada Juni 2022. Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut realisasi itu merupakan yang tertinggi sejak Juni 2017.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Natan Kacaribu mengatakan inflasi Indonesia masih lebih baik dari negara lain meski ada peningkatan. Banyak negara maju yang inflasinya tertinggi dalam puluhan tahun.

"Dibandingkan dengan banyak negara di dunia, inflasi Indonesia masih tergolong moderat. Laju inflasi di AS dan Uni Eropa terus mencatatkan rekor baru dalam 40 tahun terakhir, masing-masing mencapai 8,6% dan 8,8%," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (4/7/2022).

Demikian juga jika dibandingkan dengan negara berkembang lainnya seperti Argentina dan Turki, dengan laju inflasi masing-masing mencapai 60,7% dan 73,5%.

Febrio menjelaskan inflasi di Indonesia masih lebih baik karena berbagai kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk meredam gejolak harga komoditas global disebut berhasil. Peran APBN sebagai peredam dapat berfungsi mengendalikan inflasi, menjaga daya beli masyarakat, serta menjaga agar pemulihan ekonomi semakin menguat.

"Pemerintah melalui instrumen APBN berhasil meredam tingginya tekanan inflasi global sehingga daya beli masyarakat serta momentum pemulihan ekonomi nasional masih tetap dapat dijaga," tutur Febrio.

Terlepas dari itu, pemerintah menyebut akan terus memantau dan memitigasi berbagai faktor yang berpengaruh pada inflasi nasional, baik yang berasal dari eksternal maupun domestik.

"Pemerintah akan terus memonitor dinamika dan prospek ekonomi global ke depan serta memitigasi berbagai dampak yang mungkin timbul. Berbagai instrumen yang ada termasuk APBN akan dioptimalkan untuk meminimalisasi dampaknya pada perekonomian domestik. Dengan demikian, momentum pemulihan ekonomi nasional terjaga," ujarnya.

Sebelumnya BPS menjabarkan inflasi Juni mengalami peningkatan terutama disebabkan oleh kenaikan harga pangan bergejolak (volatile food) yang signifikan mencapai 10,07% (yoy).

Komoditas pangan yang meningkat meliputi cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah akibat curah hujan tinggi di wilayah sentra sehingga menimbulkan gagal panen dan terganggunya distribusi.

Ke depannya, Febrio melihat yang juga perlu terus diwaspadai adalah perkembangan harga pangan akibat risiko cuaca dan tekanan harga global karena restriksi ekspor di beberapa negara produsen pangan.

"Pangan sangat penting bagi masyarakat sehingga Pemerintah akan terus mengantisipasi dan mitigasi risiko dari kenaikan harga kelompok pangan bergejolak melalui berbagai kebijakan untuk menjamin kecukupan pasokan dan keterjangkauan harga pangan bagi masyarakat," tandasnya.

(aid/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT