Gara-gara eFishery, Anak Muda Rela Balik ke Kampung Urus Kolam

ADVERTISEMENT

Gara-gara eFishery, Anak Muda Rela Balik ke Kampung Urus Kolam

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 19 Jul 2022 11:26 WIB
eFishery hadir sebagai bagian dari digitalisasi Industri Akuakultur mendisrupsi metode budidaya ikan tradisional dan memberikan solusi yang canggih di ekosistem akuakultur.
Foto: dok. eFishery
Jakarta -

Startup yang berjalan di sektor budidaya ikan, eFishery berhasil mengubah citra bisnis di sektor perikanan. Menurut CEO eFishery Gibran Huzaifah, sektor ini dulu kental dengan kesan tidak teredukasi. Kini semua berubah berkat masuknya teknologi.

"Dulu kan citra para pembudi daya ini tidak teredukasi. Sekarang kan manfaatin teknologinya, petani kan pun pakai aplikasi. Nah, pakai teknologi, ada kesan keren yang kita coba bangun," ungkap Gibran dalam wawancara khusus dengan detikcom, dikutip Senin (18/7/2022).

Menurut Gibran, hal tersebut efektif meningkatkan jumlah pembudi daya ikan di Indonesia. Bahkan lebih banyak anak muda yang terjun langsung menjadi petani ikan.

"Secara umum di nasional, petani (ikan) Indonesia semakin lama rata-rata semakin tua. Kalau di eFishery, petani yang tergabung di eFishery itu rata-ratanya semakin muda," katanya.

Anak-anak petani yang berkuliah di perguruan tinggi seperti ITB dan UI bahkan tidak segan kembali ke desa, mengurus kolam ikan milik orang tuanya secara lebih profesional.

"Jadi yang lulus di perikanan nggak perlu kerja di Bank juga. Karena sektor perikanan tumbuh, bagus, profitable, dan mereka akan lebih tertarik sih masuk ke sana," kata Gibran.

Gibran bilang, fenomena anak muda kembali ke desa baru terjadi akhir-akhir ini. Awalnya, masyarakat lebih tertarik bekerja di sektor teknologi yang lebih 'seksi' seperti marketplace, e-commerce, fintech, dan lainnya. Tetapi, sektor yang kerap dianggap remeh kini justru menjadi magnet bagi kalangan muda.

Masalah regenerasi memang menjadi persoalan pelik di sektor agrikultur. Penurunan jumlah petani justru diiringi dengan penurunan jumlah produktivitas. Ia menyebut lahan pertanian, termasuk perikanan, mengalami penurunan karena menjadi area perumahan dan lainnya.

"Tapi di generasi milenial ke bawah itu nggak mau (jadi pembudi daya ikan) karena mereka cari opportunity di kota," tambahnya.

Bila ini terus terjadi, meskipun lahan dan potensinya banyak, ada kemungkinan sektor budidaya ikan tidak tergarap akibat petani yang semakin tua.

Terkait hal tersebut, eFishery menawarkan dua solusi. Pertama, eFishery membantu pembudi daya tidak berpengalaman untuk terjun ke sektor ini.

"Jadi kalau kita masuk, kasih pangannya gimana nih nggak ngerti? Ada teknologinya. Terus ngelolanya gimana? Ada aplikasinya buat mereka belajar. Terus nanti saya ngejualnya ke mana ya? Ada eFishery. Jadi kita mencoba membuka barrier-nya," imbuhnya.

Kedua, eFishery mencoba menaikkan image budidaya ikan. Menurut Gibran, teknologi yang mulai diaplikasikan berhasil membuat sektor ini tampak lebih keren.

Dengan pertumbuhan yang positif, eFishery menargetkan punya 1 juta kolam dari mitranya di tahun 2025. Dari jumlah tersebut, perkiraan omzet yang bisa dicapai oleh petani mencapai Rp 20 triliun - Rp 30 triliun.

Dalam satu kali panen, Gibran menyebut satu kolam bisa menghasilkan hingga Rp 40 juta - Rp 45 juta per siklus, atau Rp 15 juta per bulan.

Dari segi pengembangan bisnis, eFishery menawarkan tiga solusi kepada petani. Pertama, melalui pendekatan teknologi seperti alat pakan ikan otomatis yang terhubung langsung ke aplikasi.

Kedua, eFishery mengumpulkan data dan informasi terkait kebutuhan petani. Ketiga, eFishery menawarkan bantuan permodalan yang bisa dibayar saat panen melalui program Kabayan (Kasih Bayar Nanti).

(eds/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT