ADVERTISEMENT

RI Bakal Kecipratan Bonus Demografi, Ini 3 Tantangan Besarnya

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 21 Jul 2022 21:00 WIB
Direktur Toba Bara, Pendiri Indies Capital, VC Ventures, Presiden Komisaris SEA Group Indonesia, Shopee, Dewan Komisaris Gojek, Bukalapak
Pandu Patria Sjahrir/Foto: Dok. Inspirasi Digital
Jakarta -

Indonesia akan mendapatkan bonus demografi pada 2045 karena mayoritas penduduknya berusia produktif. Ada sejumlah hal yang harus disiapkan.

Founding Partner AC Venture Pandu Patria Sjahrir mengatakan, pada 2045 jumlah penduduk Indonesia 70% berusia produktif (15-64 tahun) dan sisanya 30% merupakan penduduk yang tidak produktif (di bawah 14 tahun dan di atas 65 tahun).

"Bonus demografi ini harus kita maksimalkan karena akan mendorong perekonomian Indonesia lebih pesat dan mewujudkan impian kita menjadi negara maju. Karena bukan hanya Indonesia yang terus berbenah, namun juga negara lain," kata Pandu dalam keterangan tertulis, Kamis (21/7/2022).

Dalam kunjungan ke Prancis pada 2-11 Juli lalu, Pandu mendapat pengalaman dan pelajaran berharga. Ia berbincang dengan politikus dan pebisnis Bruno Bonnell di mana Prancis memiliki tiga fokus untuk meningkatkan level persaingan mereka pada 2030.

Pertama, sektor kesehatan dan penelitian, kedua sektor akademis melalui penambahan talenta digital di deep tech dan AI, dan ketiga transisi energi untuk dekarbonisasi di dunia.

"Kita pun tidak mau kalah, secara demografi, kita memiliki populasi terbesar di Asia Tenggara dan terbesar ke-4 di dunia dengan usia rata-rata 26 tahun. Hal itu menjadikan Indonesia salah satu negara dengan tenaga kerja muda yang besar secara global," ujar Pandu.

Lebih lanjut kata Pandu, pemerintah bersama masyarakat perlu menyiapkan generasi muda yang berpendidikan dan berketerampilan tinggi serta inovatif dengan adopsi teknologi di masyarakat yang semakin baik dan visi ekonomi yang berorientasi industri hilir.

Tantangan Mencapai Target Generasi Emas

Meski demikian, ada tiga tantangan yang dihadapi Indonesia sebelum mencapai target generasi emas 2045. Pandu mengatakan, tantangan yang pertama adalah tenaga kerja Indonesia saat ini terdiri dari 78 juta pekerja informal dan hanya 10% dari tenaga kerja yang merupakan lulusan universitas.

"Sehingga Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga kerja berpendidikan dan berketerampilan tinggi," ucapnya.

Kedua, Indonesia perlu memiliki free movement tenaga kerja terampil sekaligus meningkatkan kualitas tenaga kerja nasional melalui akses pendidikan global. Harapannya, dalam 20-30 tahun mendatang, Indonesia akan punya talenta yang lebih berkembang.

Ketiga, masalah lain adalah Indonesia dihadapkan oleh masalah perubahan iklim yang mengancam kualitas hidup talenta mudanya.

"Hal ini diperparah oleh kurangnya talenta muda berbakat yang berpengalaman dan berpengetahuan untuk mengatasi masalah ini." pungkas Pandu.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT