ADVERTISEMENT

Bertemu Bos JBIC, Airlangga Bahas Proyek Pembangkit Listrik-Blok Masela

Rhazes Putra - detikFinance
Selasa, 26 Jul 2022 12:40 WIB
Kemenko Perekonomian
Foto: Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu dengan Gubernur Japan Bank for International Cooperation (JBIC) yang baru, Nobumitsu Hayashi di Hotel Imperial Tokyo, Jepang, Senin (25/7). Pertemuan itu berlangsung dengan pembahasan yang lebih fokus kepada berbagai proyek JBIC yang ada di Indonesia.

JBIC setiap tahun membuat survey atas perusahaan manufaktur Jepang yang melakukan bisnis di luar Jepang (Survey on Overseas Business Operations by Japanese Manufacturing Companies). Seperti diketahui pada survey Tahun 2021, dari Daftar 'Promising Countries for Overseas Business', Indonesia masih di ranking ke-6 atau di bawah Vietnam dan Thailand.

"Indonesia ingin lebih tinggi dari Vietnam dan Thailand, inilah alasan utama kenapa kami menemui JBIC di Tokyo," ungkap Menko Airlangga dalam keterangan tertulis, Selasa (26/7/2022).

Airlangga mengatakan JBIC memiliki spesialisasi, yang salah satunya adalah pembiayaan di sektor energi. Beberapa proyek infrastruktur seperti Pembangkit Listrik Tanjung Jati-B dan lain-lain sangat dibutuhkan untuk pembangunan Indonesia.

"Beberapa proyek infrastruktur utama seperti Pembangkit Listrik Tanjung Jati-B, Jawa 1 dan m pembangkit panas bumi Sarulla dan Muara Laboh, serta proyek LNG Tangguh. Proyek proyek ini menyediakan sumber energi yang sangat dibutuhkan dalam pembangunan ekonomi Indonesia," ujar Menko Airlangga.

Airlangga menambahkan bahwa fokus Indonesia untuk 2 tahun ke depan adalah memulihkan ekonomi dan kembali mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi dan berkelanjutan, yang didukung salah satunya oleh ketersediaan infrastruktur energi. Pemerintah Indonesia segera mengambil langkah konkrit untuk melaksanakan transisi energi ke Energi Baru dan Terbarukan (EBT) untuk mencapai Nationally Determined Contributions (NDC) pengurangan emisi karbon 29% pada tahun 2030.

Pemerintah Jepang juga telah melakukan banyak kolaborasi dengan Indonesia dalam pengurangan emisi karbon. Salah satunya melalui skema Joint Crediting Mechanism (JCM). Skema ini juga sedang dipertimbangkan sebagai bagian dalam kerjasama pendanaan JBIC dengan Indonesia dalam program transisi energi.

Proyek besar yang juga menjadi pembahasan adalah terkait proyek Masela yang akan menjadi semakin strategis terutama pasca perang Ukraina dan Rusia, terutama karena melonjaknya kebutuhan gas dari negara-negara G7. Gas menjadi sangat penting, karena dapat digunakan sebagai bahan baku amonia, bahan baku pupuk, dan gas bisa digunakan untuk membangun methanol yaitu salah satu blending untuk biofuel.

Nilai investasi proyek ini mencapai 19,85 Miliar USD. Namun demikian, proyek ini mempunyai tantangan ke depan yaitu adanya percepatan transisi energi, persyaratan dekarbonisasi dan perubahan industri hulu Migas, sehingga perlu evaluasi dan identifikasi ulang ruang lingkup proyek.

Sementara itu Gubernur JBIC Hayashi menyampaikan Indonesia adalah negara yang strategis dan terpenting dalam proyek JBIC. Dukungan JBIC di bidang energi akan membantu Indonesia dalam pembangunan ekonomi.

"Indonesia negara sangat strategis dan customer JBIC yang terpenting, karena itu saya sangat berbahagia bisa bertemu langsung dengan Menko Airlangga dan Menteri Agus. Dukungan JBIC di bidang energi dengan mendukung listrik 11,6 GW yang sangat membantu pembangunan ekonomi Indonesia,"

Selain membahas mengenai energi, pertemuan juga membahas pengembangan sektor otomotif di Indonesia. Di Indonesia, hampir 90% prinsipalnya berasal dari Jepang dan JBIC ikut membiayai pengembangan sektor otomotif.

"Kami mendukung investasi perusahaan Jepang di sektor manufaktur terutama di Otomotif, karena dengan dukungan kuat Pemerintah RI selama ini, otomotif Jepang menjadi sangat dicintai di Indonesia bahkan melebihi di Jepang sendiri. JBIC akan lebih mendorong peningkatan nilai dari investasi yang sudah ada," terang Gubernur Hayashi.

Selain itu, Airlangga juga menyampaikan harapan agar JBIC juga mendorong investasi di sektor lain yang sangat potensial, terutama sejak masa pandemi dan krisis global ini, yaitu sektor Kesehatan (Medical) dan sektor Pangan (Food).

"Sektor Kesehatan sudah mengembangkan layanan Kesehatan di KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), yaitu di KEK Kesehatan di Sanur, Bali. Di KEK boleh melakukan penelitian klinikal-trial dan memungkinkan Dokter Asing untuk bisa praktek," terang Airlangga.

Di kesempatan itu Airlangga juga mengingatkan, sejalan dengan terjadinya krisis global yang salah satunya di bidang pangan dan pupuk, Menko mengundang JBIC untuk membiayai.

Gubernur Hayashi menerangkan JBIC akan mendukung untuk berinvestasi di bidang pangan dan pupuk. Ia menilai pangan dan pupuk memerlukan supply chain yang baik seiring meningkatnya populasi penduduk.

"JBIC sangat mendukung tawaran investasi di bidang pangan dan pupuk, seiring meningkatnya jumlah populasi penduduk maka kebutuhan pangan akan terus meningkat. Namun, pangan dan pupuk ini memerlukan supply chain yang baik. JBIC akan sangat mendukung investasi baru di pangan dan pupuk," tutur Gubernur Hayashi.

Dalam penutupnya Airlangga mengatakan sangat senang bahwa proyek di Indonesia akan dijadikan prioritas utama bagi JBIC.

"Kami sangat senang mendengar bahwa proyek-proyek utama di Indonesia akan menjadi prioritas bagi JBIC. Indonesia dengan populasi dan ukuran ekonomi yang terbesar di kawasan, sangat tepat untuk menjadi prioritas utama JBIC," tutup Menko Airlangga.

Menko Airlangga yang didampingi oleh Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dan Sesmenko Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyampaikan bahwa JBIC berperan besar dalam pembangunan ekonomi Indonesia sebagai sumber pendanaan maupun penasehat dalam berbagai proyek infrastruktur.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang menyampaikan dan berharap agar ada proyek-proyek industri manufaktur yang besar di Indonesia yang didukung oleh JBIC. Gubernur Hayashi menyambut baik harapan Menteri Agus dan menjanjikan akan terus mendukung investasi perusahaan Jepang di industri manufaktur khususnya sektor otomotif.

Menteri Agus menambahkan bahwa pada September 2022 akan ada acara Business Forum yang mengulas Industri Farmasi, karena itu mengundang JBIC untuk berpartisipasi.



Simak Video "Bos IMF Temui Jokowi, Sampaikan Ancaman Situasi Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT