ADVERTISEMENT

Airlangga Ajak Investor Jepang Investasi di KEK Kesehatan Sanur

Dea Duta Aulia - detikFinance
Selasa, 26 Jul 2022 18:05 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan dengan Ketua Keidanren dan Presiden/CEO Marubeni Corporation Masumi Kakinoki di Tokyo
Foto: Kemenko Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto melakukan pertemuan dengan Ketua Keidanren dan Presiden/CEO Marubeni Corporation Masumi Kakinoki di Tokyo. Dalam pertemuan tersebut pihaknya turut menyampaikan mengenai Kawasan Ekonomi Khusus untuk sektor Kesehatan, yaitu di Sanur Bali yang investasi dan tenaga kesehatannya dapat berasal dari asing.

"Setelah Marubeni bekerja sama dengan Siloam Group dan Bunda Group, Pemerintah mengundang Marubeni untuk memperluas kerja samanya dengan berinvestasi di KEK Kesehatan dan tidak hanya terkait jasa kesehatan, namun bisa juga untuk alat-alat kesehatan dan lainnya," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Selasa (26/7/2022).

Selain itu, Airlangga juga menyampaikan beberapa hal seperti neraca perdagangan Indonesia-Jepang, pertumbuhan ekonomi nasional, Presidensi G20 Indonesia, dan kendaraan listrik.

"Neraca Perdagangan Indonesia - Jepang yang senilai US$32,5 miliar dengan posisi surplus untuk Indonesia sebesar US$3,2 miliar. Juga menjelaskan kondisi terkini penanganan COVID-19 di Indonesia yang relatif terkendali dan progres pemulihan ekonomi Indonesia yang cukup baik dan diperkirakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2022 masih sanggup di atas 5%," kata Airlangga.

Sementara itu, ia menjelaskan ada 3 pilar utama Presidensi G20 Indonesia salah satunya terkait dengan transisi energi. Dalam kebijakan transisi energi, Indonesia berkomitmen untuk mencapai Net Zero Emission (NZE) di tahun 2060 serta Nationally Determined Contributions (NDCs) pengurangan emisi karbon 29% pada tahun 2030. Pemerintah telah membuat Roadmap untuk mencapai net target tersebut hingga 2060.

"Sebagai langkah awal transformasi energi maka ditargetkan 23 persen bauran energi di tahun 2025 adalah energi baru dan terbarukan (EBT). Hingga akhir tahun 2021 lalu, bauran energi dari EBT telah mencapai sekitar 11,7 persen," kata Airlangga.

Ada sejumlah strategi utama yang akan dijalankan untuk menuju karbon netral dari sisi supply, seperti pengembangan energi baru terbarukan (EBT), Retirement PLTU yang dilakukan secara bertahap, pemanfaatan teknologi rendah emisi seperti Carbon Capture and Storage (CCS) serta Carbon Capture Utilization and Storage (CCUS), dan penerapan Kebijakan Nilai Ekonomi Karbon (NEK/Carbon Pricing).

Airlangga menjelaskan dari sisi demand ada sejumlah strategi yang dilakukan antara lain, pemanfaatan kompor induksi listrik dan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB), penerapan manajemen energi, dan sejumlah sektor investasi potensial yaitu sektor pembangkit listrik tenaga surya, tenaga air, hidrogen serta paduan amonia.

"Pemerintah Indonesia juga tengah mengeksplorasi paduan pembakaran antara ammonia dan batu bara yang bisa menurunkan karbon, dan menjadi transisi energi ke depannya," ujar Airlangga.

Isu kendaraan listrik turut dibahas dalam pertemuan tersebut. Ia mengatakan Indonesia tengah berupaya untuk melakukan akselerasi pengembangan Electric Vehicle (EV) atau kendaraan listrik. Salah satu langkah nyatanya melalui penyusunan peta jalan pengembangan ekosistem EV di Indonesia melalui Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 27 Tahun 2020.

"Targetnya, produksi EV pada tahun 2030 dapat mencapai 600 ribu unit untuk roda empat atau lebih, dan untuk roda dua dapat mencapai hingga 2,45 juta unit. Dengan diproduksinya kendaraan listrik, diharapkan mampu menurunkan emisi CO2 sebesar 2,7 juta ton untuk roda empat atau lebih dan sebesar 1,1 juta ton untuk roda dua. Pemerintah memberikan berbagai insentif fiskal dan non-fiskal bagi konsumen EV, seperti pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Barang Mewah PPnBM sebesar 0% melalui Peraturan Pemerintah Nomor 74/2021," ujarnya.

Sementara itu, Masumi Kakinoki mengapresiasi sejumlah langkah yang telah dipersiapkan oleh pemerintah Indonesia dalam Presidensi G20 Tahun 2022 dan ASEAN Tahun 2023. Tak hanya itu, ia turut mengapresiasi keseriusan Indonesia dalam menciptakan iklim usaha yang kondusif dan sambutan positif terhadap pengembangan KEK Kesehatan di Sanur Bali.

(akn/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT