ADVERTISEMENT

Kemenkeu Waspadai Dampak Konflik China-Taiwan: Harga-harga Bisa Naik Lagi!

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 08 Agu 2022 12:10 WIB
A woman sings at a karaoke bar in an underground space that will be used as an air-raid shelter in the event of an attack, beneath a residential building in Taipei, Taiwan July 22, 2022. REUTERS/Ann Wang
Foto: REUTERS/Ann Wang
Jakarta -

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mewaspadai potensi konflik terjadi antara China dan Taiwan akibat Ketua DPR Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi berkunjung ke Taipei. Jika itu terjadi, Indonesia bisa kena dampaknya.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio Kacaribu mengatakan jika China dan Taiwan perang maka dampaknya bisa meningkatkan harga komoditas dan menganggu pemulihan ekonomi.

"Kita harapkan de-eskalasi untuk di region kita seperti di Taiwan dalam konteks kunjungan Pelosi ke Taiwan kemarin. Ini akan terus kita pantau karena risikonya memang adalah terhadap harga komoditas dan juga pemulihan ekonomi di banyak negara. Kita lihat bagaimana Indonesia akan merespons," kata Febrio dalam Taklimat Media secara virtual, Senin (8/8/2022).

Padahal saat ini harga komoditas pangan dan energi baru mulai berangsur turun setelah adanya kenaikan akibat perang Rusia dan Ukraina.

"Secara keseluruhan mayoritas dari harga komoditas pangan itu relatif sudah turun cukup banyak. Akan tetapi untuk komoditas energi masih relatif tinggi, untuk minyak bumi misalnya crude masih 23,5% walaupun sudah terkoreksi cukup signifikan dan hari-hari terakhir ini kita juga lihat bagaimana harga dari minyak bumi ini juga sudah berada di bawah US$ 100 per barel," jelasnya.

Febrio juga mewaspadai konflik China dan Taiwan berpotensi memberikan dampak terhadap mobilitas perdagangan dan investasi Indonesia. Meski sampai saat ini diakui dampaknya belum terlihat.

"Sejauh ini memang belum ada dampak yang terlihat cukup signifikan, akan tetapi kita waspada karena kita sudah lihat apa yang terjadi di Ukraina dan dampaknya sudah kita rasakan dan kita sudah harus mengubah, menyiapkan kebijakan kita terkait perang di Ukraina," tuturnya.

Indonesia berharap secepatnya terjadi de-eskalasi baik Rusia dan Ukraina maupun China dan Taiwan. Dengan begitu harapannya pertumbuhan ekonomi global maupun regional tetap bisa terjaga.

"Dalam konteks ini lah kita akan terus mengedepankan diplomasi ekonomi. Dalam konteks geopolitik yang terjadi banyak negara miskin di Afrika sudah terkena dampak sangat negatif. Bahkan dalam G20 kita sudah menyuarakan bagaimana banyak negara miskin sudah masuk dalam krisis pangan," tandasnya.

Lihat juga video 'Aksi Teror Kapal Perang China di Perairan Taiwan':

[Gambas:Video 20detik]



(aid/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT