ADVERTISEMENT

Bicara Peluang RI Masuk Resesi, Sri Mulyani: Sangat Kecil!

Anisa Indraini - detikFinance
Senin, 08 Agu 2022 18:45 WIB
Infografis 15 negara dalam bayang-bayang resesi
Ilustrasi Jurang Resesi Ekonomi (Foto: Infografis detikcom/Mindra Purnomo)
Jakarta -

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut kemungkinan Indonesia mengalami resesi sangat kecil. Pasalnya negara yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini memiliki ketahanan ekonomi yang cukup baik.

"Indonesia termasuk negara yang kemungkinan terjadinya resesi sangat kecil," kata Sri Mulyani dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Indonesia, Senin (8/8/2022).

Sri Mulyani menjelaskan survei Bloomberg tentang probabilitas negara mengalami resesi menunjukkan bahwa Indonesia berada di paling bawah dengan kemungkinan hanya 3%. Berbeda dengan negara ASEAN lain seperti Malaysia dan Vietnam yang masing-masing kemungkinannya 13% dan 10%.

Dari survei tersebut, negara paling besar kemungkinan terjadi resesi adalah Sri Lanka yakni 85%. Kemudian di Eropa sebesar 55%, Amerika Serikat 40%, hingga China 20%.

"Sebetulnya Amerika Serikat sudah mengalami secara teknik resesi karena dua kuartal berturut-turut perekonomiannya negatif. RRT sebagai negara ekonomi kedua terbesar juga mengalami pertumbuhan yang sangat rendah pada kuartal II sehingga ini menimbulkan komplikasi," tuturnya.

Sri Mulyani mengatakan berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah sehingga Indonesia merupakan negara yang memiliki kecepatan pertumbuhan ekonomi yang baik dan stabil. Hal itu tercermin pada kuartal II-2022, di mana pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,44% (yoy).

Selain itu, Indonesia juga termasuk negara dengan inflasi yang rendah jika dibandingkan dengan negara lain. "Turki inflasinya sudah mendekati 80%, Argentina juga bahkan sudah mendekati atau di atas 70%," ujarnya.

"Jadi kalau dilihat sampai hari ini Indonesia dengan inflasi 4,4 itu adalah sebuah hasil dari kebijakan dan memang ada biayanya yaitu APBN kita yang harus menanggung shock yang terjadi karena terjadinya komoditas yang luar biasa," pungkas Sri Mulyani.

(aid/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT