ADVERTISEMENT

Mal-mal Ini Masih Tetap Sepi Kala COVID-19 Mereda, Kenapa?

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Sabtu, 13 Agu 2022 22:00 WIB
Mal Blok M di Jakarta Selatan pernah menjadi salah satu pusat perbelanjaan yang populer di Jakarta. Namun, kondisi Mal Blok M saat ini jauh berbeda. Mal ini sangat sepi bak kuburan, Kamis, 11/8/2022.
Mal Blok M, Hidup Segan Mati Tak Mau/Foto: Achmad Dwi Afriyadi
Jakarta -

Mal menjadi salah satu tujuan bagi masyarakat yang ingin belanja hingga ngopi. Hal ini berdampak pada begitu banyaknya mal yang berdiri dan tersebar di seluruh Indonesia.

Dikutip melalui situs resmi APPBI DPD DKI Jakarta, Minggu (13/8/2022), ada 96 mal di DKI Jakarta. Hal ini menjadikan ibu kota RI ini sebagai provinsi dengan jumlah mal terbanyak. Di samping begitu banyaknya mal yang berdiri begitu megah dengan banyaknya pengunjung, ada juga beberapa mal yang kini kiprahnya telah meredup hingga sepi.

Mal yang Sepi di Jakarta:

1. Mal Blok M

Mal Blok M di kawasan Jakarta Selatan menjadi yang pertama kita bahas. Mal yang dulunya terkenal sebagai satu-satunya 'Mal Bawah Tanah' ini dulunya merupakan kawasan legendaris yang digandrungi anak muda tahun 90-an. Lokasinya pun terletak tepat di bawah Terminal Blok M yang punya posisi sangat strategis sebagai jalur transit alat transportasi.

Penjaga toko sepatu Agung, mengatakan, mal ini dulu sangat ramai. Apalagi, ketika momen jelang Lebaran di mana untuk jalan saja sulit.

"Kalau dulu mah ramai, orang mau lewat, hari puasa, menjelang Lebaran, orang lewat nggak bisa los kaya gini, dempet-dempetan dia saking full," kata Agung kepada detikcom, Jumat (12/8/2022).

Lanjut Agung, saat masa jayanya, banyak ruko buka di Mal Blok M. Di kawasan ini, ada juga Ramayana dan Robinson yang kerap menawarkan diskon. Kini, kondisi Mal Blok M jauh berbeda. Mal ini sepi di mana banyak ruko tutup dan jarang pengunjung yang melintas.

Agung mengatakan, mal ini mulai ditinggalkan sejak 2017. Kondisi ini diperparah dengan adanya pandemi COVID-19. Hal ini menyebabkan banyak pedagang yang memutuskan untuk tutup ruko dan pindah ke tempat lain.

Selain itu, beberapa hal lainnya yang menyebabkan mal ini seolah-olah kota mati ialah keberadaan toko online, maraknya penjualan barang-barang bekas, dan hilangnya toko-toko besar yang dapat menjadi daya tarik kawasan ini seperti Ramayana. Hilangnya transportasi Metromini dan Kopaja juga menjadi salah satu faktor ekstra, di mana dulunya terminal ini merupakan lokasi transitnya kedua kendaraan tersebut.

2. Plaza Semanggi

Plaza Semanggi di Jakarta Selatan mulanya merupakan pusat perbelanjaan yang ramai. Dulunya, banyak pedagang yang membuka toko di mal ini. Bahkan saking ramainya, untuk berjalan saja susah.

Namun, kondisi Plaza Semanggi kini sangat sepi, jauh berbeda dari sebelumnya. Plaza Semanggi juga sudah banyak ditinggalkan pedagang. Hal itu terlihat dari banyaknya toko yang tutup.

"Dulu ramai, ramai banget, sampai dulu di sini jalan aja susah. Kaya gimana sih mal sedang ramai-ramainya," ujar Rina, salah satu penjaga toko di mal tersebut kepada detikcom.

Plaza Semanggi sepi/Achmad Dwi Afriyadi-detikcomPlaza Semanggi sepi/Achmad Dwi Afriyadi-detikcom Foto: Plaza Semanggi sepi/Achmad Dwi Afriyadi-detikcom

Kala itu, toko-toko atau ruko terisi penuh. Ramainya mal juga didukung banyaknya event di Plaza Semanggi. Menurutnya, pengunjung di Plaza Semanggi mulai berkurang pada 2018. Namun, terasa mulai sepi pada 2019. Dia bilang, kondisi mal tambah parah pada 2020 atau sejak pandemi.

"Dulu full banget mal Semanggi, full banget. Ada counter-counter semua dulu, ada pameran-pameran juga ada dulu di sini. Jadi mau nyari apa juga mal Semanggi gampang, pusatnya mal ya ini Semanggi dulu, mal paling teramai dulu," terangnya.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT