ADVERTISEMENT

Ekonomi China Merosot, Pendapatan Tencent Loyo Hingga PHK Ribuan Karyawan

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 18 Agu 2022 09:13 WIB
Tencent
Foto: istimewa
Jakarta -

Raksasa teknologi China, Tencent mulai merasakan dampak dari merosotnya ekonomi China. Saat ini, perusahaan sedang melakukan perampingan secara masif setelah pendapatannya loyo pada kuartal II tahun ini.

Perusahaan yang menjadi pemilik WeChat ini mulai merasakan efek dari larangan bermain game, serta penurunan ekonomi yang lebih luas di China. Tencent mulai memangkas lebih dari 5.000 staf dan menutup sebagian bisnisnya karena bergulat dengan penurunan penjualan terburuk dalam sejarahnya.

Dilansir BBC, Kamis (18/8/2022), pendapatan perusahaan turun 3% secara tahunan pada periode April-Juni 2022. Pendapatan terpukul sangat berat oleh penurunan belanja iklan dan bisnis game online.

Tencent, sebelumnya sudah pernah go public di Hong Kong pada 2004 dan telah menikmati pertumbuhan pesat dalam jangka panjang sejak saat itu. Meski begitu, dampak pelemahan ekonomi China tetap terasa saat ini.

Sekitar setengah dari pendapatan Tencent berasal dari iklan online, layanan keuangan, dan bisnis. Namun, saat ini efek dari penurunan yang lebih luas terlihat jelas, penjualan iklan saja anjlok 18%. Belum lagi dengan keuntungan pendapatan dari cloud dan penawaran lainnya yang juga berkurang.

Perusahaan telah menghadapi tantangan sejak China tahun lalu memperketat pembatasan bermain game untuk anak-anak, bahkan menghentikan persetujuan perilisan game baru. Pendapatan game turun 1% di China dan di pasar internasionalnya.

Tencent pun mengatakan telah menutup pendidikan online, e-commerce, dan unit streaming langsung game tahun ini. PHK pada kuartal tersebut mempengaruhi sekitar 5% dari total tenaga kerjanya.

"Selama kuartal II, kami secara aktif keluar dari bisnis non-inti, memperketat pengeluaran pemasaran kami, dan memangkas biaya operasional," kata bos Tencent Ma Huateng, yang dikenal sebagai Pony Ma.

Kondisi ekonomi China memang sedang lesu imbas pandemi COVID-19 dan kebijakan ekstrem yang ditempuh pemerintah. Bahkan, Bank Sentral China pada Senin memangkas suku bunga demi memacu aktivitas ekonomi lebih cepat.

Bulan lalu, China melaporkan ekonominya telah merosot dengan sangat tajam dalam tiga bulan hingga Juli dan mengisyaratkan mungkin kehilangan target pertumbuhan resmi 5,5%.

Perdana Menteri China, Li Keqiang mengatakan negaranya menghadapi titik paling sulit dari stabilisasi ekonomi dan mendesak para pemimpin provinsi untuk meningkatkan dukungan mereka bagi perekonomian.

"Kita harus mengkonsolidasikan fondasi untuk pemulihan dan pembangunan ekonomi dengan rasa urgensi yang tidak bisa menunggu," kata Li Keqiang.

Simak juga Video: Alibaba hingga Tencent Jadi Pemodal Merger Tokopedia dan Gojek

[Gambas:Video 20detik]




(hal/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT