ADVERTISEMENT

Investor China Dikabarkan Mau Jual Aset di Morowali ke Raksasa Baja Dunia

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 16 Agu 2022 22:35 WIB
Pekerja menyelsaikan pembuatan stainless steel strip di Pabrik milik PT. Bina Niaga Multiusaha, Cikarang, Jawa Barat, Selasa (25/08/2016). PT. Bina Niaga Multiusaha (BNM) merupakan satu-satunya produsen stainless steel strip di Indonesia dalam bentuk coil khususnya untuk material yang sangat tipis dibawah 0.2 mm sampai dengan paling tipis 0.06 mm) dan sesuai dengan standard JIS (Japanese Industrial Standard) serta Standard Pengujian Material dari Amerika yaitu ASTM. Grandyos Zafna/detikcom.
Ilustrasi/Foto: M Iqbal/detikcom
Jakarta -

Perusahaan raksasa nikel yang dimiliki oleh miliarder Xiang Guangda, Tsingshan Holding Group Co sedang berdiskusi terkait penjualan asetnya di Indonesia ke China Baowu Steel Group Corp.

Melansir dari Bloomberg, Selasa (16/8/2022), Baowu yang dikendalikan pemerintah merupakan produsen baja mentah terbesar di dunia. Baowu kemungkinan akan memperoleh saham pengendali di beberapa lini produksi yang dimiliki Tsingshan di Indonesia, tepatnya di Morowali Industrial Park di provinsi Sulawesi Tengah.

Dikutip dari Channel News Asia (CNA), Tsingshan cukup banyak berinvestasi di Indonesia. Perusahaan ini mengubah kawasan Asia Tenggara yang kaya nikel menjadi pusat produksi baja tahan karat dan. Tsingshan kemungkinan juga jadi pemasok utama bahan kimia baterai kendaraan listrik.

Adapun pembicaraan ini sudah dimulai sejak April lalu. Aset yang dijual termasuk pabrik produksi baja tahan karat dan besi kasar nikel. Potensi transaksi ini mencapai US$ 3 miliar - US$ 4 miliar atau Rp 44,1 triliun - Rp 58,8 triliun (kurs Rp 14.700).

Sumber yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, kedua belah pihak telah menyetujui beberapa persyaratan utama. Saat ini mereka sedang berdiskusi tentang rincian, seperti operasi dan penjualan setelah akuisisi.

"(Ini) masih dalam diskusi," kata seorang pejabat Tsingshan dikutip dari Channel News Asia, Selasa (16/8/2022).

Tsingshan dalam beberapa tahun terakhir telah banyak berinvestasi di Indonesia, mengubah negara Asia Tenggara yang kaya nikel menjadi pusat produksi baja tahan karat dan nikel dan kemungkinan jadi pemasok utama bahan kimia baterai kendaraan listrik.

"Tsingshan memiliki niat untuk menjual sebagian aset mereka, dan membangun hubungan baik dengan perusahaan milik negara. Kedua belah pihak tertarik untuk mendapatkan kesepakatan," jelas salah satu sumber di Baowu.

Kesepakatan dengan Baowu akan memperkuat hubungan dengan salah satu produsen komoditas terbesar di China sambil tetap memungkinkan Tsingshan untuk mempertahankan eksposur substansial ke bisnis baja.

Bila kesepakatan ini berhasil maka akan meningkatkan kapasitas produksi baja tahan karat tahunan Baowu menjadi lebih dari 13 juta ton. Berdasarkan perhitungan Bloomberg, Jumlah ini adalah gabungan dengan menambahkan 1 juta ton di Indonesia.

Baowu memiliki ambisi untuk meningkatkan produksi baja tahan karat menjadi 15 juta ton pada akhir tahun 2023 dan menjadi 18 juta ton pada akhir tahun 2025, melalui kerja sama dengan perusahaan lokal dan luar neger. Adapun operasionalnya menjangkau Xinjiang barat ke Shandong timur ke Guangdong selatan di Cina.

Baowu juga menjadi pembuat baja nirkarat terbesar di China melalui serangkaian akuisisi yang didukung oleh pemerintah pusat China. Salah satunya adalah Shanxi Taigang Stainless Steel Co tahun 2020.

(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT