ADVERTISEMENT

Provinsi Tajir China Diminta Bantu Dongkrak Ekonomi dan Lapangan Kerja

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Kamis, 18 Agu 2022 12:49 WIB
Ilustrasi bendera China/ebcitizen.com
Foto: Internet/ebcitizen.com
Jakarta -

Perdana Menteri China Li Keqiang mendesak provinsi-provinsi terkaya China untuk untuk membantu pemerintah meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Desakan ini muncul sehari setelah data resmi menunjukkan gambaran suram bagi ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Li yang merupakan orang terkuat nomor 2 dalam hierarki Partai Komunis China itu diketahui cukup vokal tahun ini menyuarakan bagaimana kondisi ekonomi China tersungkur saat ini. Ia telah berulang kali menekankan perlunya menstabilkan situasi pekerjaan yang kompleks dan serius.

Dikutip dari CNN, Kombinasi pembatasan kegiatan masyarakat atau lockdown COVID-19, krisis real estat, dan sekarang cuaca ekstrem, menjadi tantangan sempurna yang memporak-porandakan China.

Desakan yang dilakukan Li bukan sekedar gertak sambal. Pada hari Selasa, Li muncul secara tak terduga di Shenzhen, pusat teknologi negara itu. Dalam kesempatan itu, ia bertemu dengan pejabat tinggi dari enam provinsi ekonomi utama, mendesak mereka untuk meningkatkan dukungan untuk bisnis lokal dan membuka lebih banyak perdagangan dan investasi asing.

"Saat ini, kami berada pada titik paling sulit dari stabilisasi ekonomi," kata Li pada pertemuan itu, menurut artikel Xinhua yang diposting di situs web pemerintah pusat.
"Kita harus memperkuat pemulihan ekonomi dengan rasa urgensi karena waktu tidak menunggu siapa pun," sambung dia.

Adapun enam provinsi yang ditemui Li itu dianggap sebagai pilar pertumbuhan ekonomi China dan harus berani memimpin dan memainkan peran kunci dalam menstabilkan ekonomi China.

Provinsi yang dia maksud melipti Guangdong, Jiangsu, Shandong, Zhejiang, Henan dan Sichuan. Keenamnya menyumbang sekitar 45% dari PDB China dan 40% dari lapangan kerja negara itu, menurut Li.

Guangdong, yang berbatasan dengan Hong Kong, adalah pusat ekspor dan pembangkit tenaga manufaktur terpenting China, dengan PDB provinsi sebesar US$ 1,9 triliun.

China memang diketahui tengah menghadapi tantangan berat. Laporan Biro Statistik Nasional mengungkap, penjualan ritel hanya tumbuh 2,7% pada Juli dari tahun lalu, melambat dari pertumbuhan 3,1% pada Juni. Produksi industri naik 3,8% di bulan Juli dari tahun sebelumnya, turun dari pertumbuhan 3,9% di bulan Juni.

Bukan hanya itu, pengangguran bagi mereka yang berusia 16 hingga 24 tahun melonjak ke rekor tertinggi baru di 19,9%, naik dari 19,3% pada Juni. Investasi properti oleh pengembang mengalami kontraksi 6,4% dalam tujuh bulan pertama tahun ini, dan harga rumah baru di 70 kota besar turun untuk 11 bulan berturut-turut di bulan Juli.

Analis secara luas mengaitkan tekanan ini dengan kebijakan lockdown COVID yang diperbarui di banyak kota dan penurunan properti yang semakin dalam di negara itu.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT