ADVERTISEMENT

Kalau Berinvestasi Mesti Sat Set Sat Set Nggak Sih?

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 19 Agu 2022 12:27 WIB
Ilustrasi Investasi
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Anak muda kecenderungan ingin cepat cuan kalau berinvestasi. Akibatnya mudah tergiur untuk meniru kesuksesan orang tanpa pengetahuan yang cukup.

Menurut Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Purbaya Yudhi Sadewa, euforia dalam berinvestasi ini harus disertai dengan pengetahuan yang cukup bagi anak-anak Generasi Z sebagai investor pemula.

Jangan sampai generasi yang lekat dengan gadget dan dunia digital ini hanya berinvestasi karena ikut-ikutan, tanpa punya pengetahuan.

"Kalau kita tak ajari mereka, mereka bisa kapok berinvestasi. Forum ini berguna untuk meningkatkan literasi ke masyarakat. Membekali diri untuk berhasil di pasar finansial itu penting," tutur Purbaya dalam seminar hybrid bertajuk "Merdeka Finansial di Era Digital" kemarin, Kamis (18/8/2022).

Purbaya menyatakan, anak muda saat ini memiliki kecenderungan mengadopsi media digital, khususnya media sosial, dalam mengambil keputusan terkait keuangan dan investasi. Di sisi lain, anak muda juga memiliki kecenderungan ingin mendapatkan keuntungan cepat dalam berinvestasi.

"Generasi muda cenderung tergiur dengan investasi yang berisiko tinggi. Risikonya tidak dipelajari sama sekali, makanya flexing laku," ujarnya.

Berdasarkan data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), jika pada 2018 lalu, investor pasar modal tercatat hanya sebanyak 1,6 juta, pada Juli 2022, jumlahnya sudah mencapai 9,3 juta. Pada periode yang sama, investor saham mencapai 4,1 juta, reksadana 8,6 juta dan surat berharga negara (SBN) sebanyak 736,4 ribu.

Di satu sisi, kegairahan berinvestasi ini, lanjutnya, jadi sesuatu yang positif buat perekonomian. Tapi di sisi lain, maraknya minat berinvestasi kerap tak diiringi oleh pengetahuan yang cukup.

"Minat investasi di pasar modal mengalami kenaikan yang impresif, padahal sejak puluhan tahun lalu peningkatan tak banyak terjadi. Inklusi dan literasi keuangan semakin meningkat, namun terdapat gap antara inklusi dengan literasi. Selain itu, juga terdapat gap inklusi dan literasi antar wilayah di Indonesia," imbuhnya.

Ia melanjutkan, secara demografi, investor di Indonesia didominasi oleh generasi muda (di bawah usia 30 tahun) dan latar belakang pendidikan tertinggi SMA/sederajat.Berdasarkan kelompok umur, data KSEI menyebutkan, investor dengan usia di bawah 30 tahun jumlahnya mencapai 59,43% dan menguasai Rp54,79 triliun.

Di umur-umur seperti itu, investor yang ada kebanyakan memang masih dalam tahap awal berinvestasi. Tak heran porsi investasi masih belum terlalu besar dialokasikan dari pendapatan yang diterima.

Masih sesuai data KSEI, jika berdasarkan pendapatan, sekitar 49,54% investor ditempati oleh investor dengan penghasilan Rp 10-100 juta dengan total dana ebesar Rp 179,9 triliun. Disusul oleh investor berpenghasilan di bawah Rp 10 juta sebanyak 38,17% dengan total investasi sebesar Rp 170,9 triliun.

Purbaya menyarankan, sebelum benar-benar terjun ke dunia investasi, anak muda seharusnya bisa melakukan profiling pada dirinya sendiri. Mereka bisa memulai berinvestasi setelah memenuhi kebutuhan dasar, dana darurat dan asuransi.

"Kuncinya sabar. Jangan anggap investasi itu bisa bikin langsung kaya. Jangan berutang dalam berinvestasi karena bunga pinjaman itu sudah pasti, sedangkan return investasi belum pasti ," tutur Mantan Kepala Ekonom Danareksa Sekuritas tersebut.

Jadi boleh saja berinvestasi dengan sat set sat set tapi harus dibarengi pemahaman yang tepat jangan asal cepat tapi tidak ternyata tidak akurat.

Lanjut ke halaman berikutnya



Simak Video "Di Depan CEO Jepang, Jokowi: RI Salah Satu Tempat Investasi Terbaik"
[Gambas:Video 20detik]

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT