ADVERTISEMENT

Tapal Batas

Daerah Perbatasan di Kalbar Ini Minta Jadi Kawasan Free Trade Zone

Nurcholis Maarif - detikFinance
Kamis, 22 Sep 2022 09:56 WIB
PLBN Jagoi Babang di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat, tengah dikebut pembangunannnya. Begini potretnya dari atas.
Potret PLBN Jagoi Babang dari atas (Foto: Rifkianto Nugroho)
Bengkayang -

Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis mengusulkan adanya free trade zone (FTZ) buat beberapa kecamatan yang ada di wilayahnya yang berbatasan langsung dengan Serawak, negara bagian Malaysia. Menurutnya hal ini dapat mempermudah masyarakat di tapal batas Indonesia-Malaysia dalam transaksi barang hingga menjaga kedaulatan mata uang rupiah.

Sebab selama ini warga dari beberapa kecamatan di Bengkayang, seperti Jagoi Babang, Seluas, dan Siding yang berbatasan langsung dengan Malaysia, lebih sering berbelanja kebutuhan sehari-hari di Pasar Serikin di Sarawak karena lebih dekat dan lebih murah dari pasar yang ada di Indonesia. Pada sisi lain, warga juga lebih sering menjual hasil bumi dan kerajinan tangannya berupa bidai dan tas ke Pasar Serikin.

"Makanya ke depan harus dipikirkan oleh negara kawasan free trade zone bisa juga nggak. Ftz dibangun di antara Jagoi Babang dan Serikin, di tengah-tengah, bisa nggak? Itu apa namanya memang betul-betul bebas," ujarnya kepada detikcom belum lama ini.

"Kalau kita buat di Jagoi Babang, mustahil mereka datang. faktor keamanan pertama, kedua faktor kenyamanan. Tapi kalau mereka buat di Serikin, kita yang rugi, karena kita buka lapak, walaupun barang kita, tapi masuk income ke sana. Tapi maunya kita gitu, bisa nggak buat ftz, meskipun secara konstitusi nggak bisa, tapi bisa nggak?. Nah seperti di daerah Bintan, kan itu free trade zone," imbuhnya.

Bupati Bengkayang Sebastianus DarwisBupati Bengkayang Sebastianus Darwis (Foto: detikcom/Rifkianto Nugroho)

Sementara itu, Wiradi, warga Dusun Risau, Jagoi Babang bercerita selama ini memang kebanyakan warga perbatasan lebih sering berbelanja, terutama untuk kebutuhan sehari-hari, ke Pasar Serikin yang ada di Malaysia. Hal ini sebenarnya tidak bertentangan karena sudah sesuai dengan Border Trade Agreement 1970 dan Undang-Undang Kepabeanan.

"(Belanja) Barang makan aja lah, keperluan sehari-hari, kami di sini kan sering belanja di sana, lebih murah lah. Kebutuhan pokok, macam gula lah, di sini lebih Rp 10.000 per kg, di sana nggak sampai. Lagi pun kita pergi tidak terlalu jauh," ujarnya.

"Bukan kita nggak mau mendukung negara sendiri, karena kita ini kan orang serba kekurangan, cari yang murah. Emang udah yang biasa, di warung situ mahal, yang sini murah, tetap kita kejar yang murah," imbuhnya.

Adapun sebelum ke Malaysia, kata Wiradi, biasanya warga menukarkan mata uang rupiah ke ringgit terlebih dahulu di Indonesia. Sebab jika ditukarkan di Serikin, biasanya lebih tinggi harganya dibanding yang ada di Indonesia.

Selain berbelanja, ia juga beberapa kali berdagang kerajinan tangan tikar bidai yang dibuat istrinya ke Pasar Serikin. Namun hal itu tidak ia lakukan lagi ketika ia memutuskan untuk meneruskan mengurus lahan sawit milik orang tuanya.

Awalnya, ia hanya mengurus sawit di lahan 1,6 hektare milik orang tuanya. Kemudian ia mengajukan Kredit Usaha Rakyat (KUR) Bank BRI untuk mengembangkan sawit di lahan barunya seluas 2,4 hektare. Ia mengaku sudah mengambil dua kali KUR Bank BRI, pertama sebanyak Rp 25 juta dan kedua Rp 75 juta.

"Saya mengembangkan usaha, mengajukan KUR pinjaman BRI. Dengan adanya KUR ini bersyukur juga lah bisa mengembangkan usaha, walaupun tidak seperti orang lain, tapi bisa beruntung juga," ujarnya.

"KUR (pertama) untuk pembukaan lahan dan beli bibit, yang kedua untuk biaya perawatan sawit, terutama yang ini, sama membeli bibit baru, sama buka tempat usaha di rumah itu," imbuhnya.

Ia pun mengaku bersyukur karena sebelum mendapat KUR Bank BRI, ia merasa memiliki banyak kekurangan dalam mengembangkan usahanya. Ia berharap kelak ketika akan mengajukan KUR kembali, Bank BRI mempermudah prosesnya.

detikcom bersama BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas perkembangan ekonomi, infrastruktur, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan Indonesia. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

Simak Video "Jagoi Babang, Kecamatan di Kalbar yang Berbatasan dengan Malaysia"

(ncm/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT