ADVERTISEMENT

Imbas Pasar Glodok Sepi, Barang Jualan Pedagang Nggak Laku

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Jumat, 23 Sep 2022 18:15 WIB
Glodok City merupakan salah satu pusat elektronik legendaris di ibu kota sejak 1980-an. Namun sayangnya, kiprah gemilangnya meredup setelah pandemi Covid-19 datang melanda. Bahkan kini kondisinya sepi bak kuburan.
Foto: Shafira Cendra Arini
Jakarta -

Para pedagang di Glodok City dilanda keresahan. Pandemi Covid-19 yang melanda RI membuat pusat perbelanjaan legendaris ini makin sepi pengunjung.

Hal ini berimbas pada lebih dari setengah gerai yang tutup dan tidak beroperasi lagi. Meski demikian, masih banyak pedagang yang bertahan walau akhirnya harus menelan 'pil pahit' lantaran barangnya tidak laku terjual.

Seperti halnya yang dialami salah seorang pemilik toko service PlayStation. Ia yang telah berjualan di sana selama 6 tahun mengaku omsetnya turun drastis hingga 80%.

"Bukan turun beberapa persen lagi (omset), hampir 80% nggak ada sekarang. Sekarang kalau disebut untuk kebutuhan keluarga, kalau disebut kurang ya bisa kurang," ungkapnya kepada detikcom.

Namun sayangnya semakin ke sini, justru pelanggan makin sepi. Padahal, pandemi Covid-19 telah mereda. Ia juga turut mencoba lewat jalur online, namun hasilnya tidak terlalu signifikan.

"Saya buka juga online. Tapi coba aja ini lihat, saya packing cuman satu. Ini juga syukur ada. Istilahnya kadang buat keluarga, bayar kos aja udah susah," katanya.

"Istilahnya dua hari tiga hari, bahkan kadang-kadang empat-lima hari nggak dapat pelanggan," katanya.

Hal yang tidak jauh berbeda juga dialami Widya, pemilik toko kosmetik. Ia mengatakan, dirinya kerap merugi lantaran penjualannya tidak seberapa. Pun dirinya tidak membuka penjualan secara online dan hanya mengandalkan toko tersebut.

"Waduh, udah kaya nggak jualan. Ya kita orang paling tetangga-tetangga beli tisu, beli apa, gitu aja. Orang-orang kan sudah pada jualan online, jadi merosot," ungkap Widya.

"Nggak ada untung, udah rugi. Biaya maintenance aja hampir Rp 600 ribu, listrik Rp 200 ribu, dan lain-lainnya," tambahnya.

Meski demikian, Glodok City memiliki nilai sentimentil tersendiri bagi dirinya. Widya bahkan telah berjualan di sana sejak tahun 1970-an. Oleh karena itu, ia tetap bersikukuh untuk menghabiskan waktunya di sana.

Salah seorang pemilik kantin di Glodok City menjelaskan, sebelum pandemi melanda, pusat perbelanjaan itu berangsur-angsur sepi. Namun kondisi pandemi Covid-19 memperparahnya.

"Yang jualannya nggak laku seharian banyak, yang nggak laku dan sekarang nggak jualan lagi juga banyak," katanya.

Ia juga menyebut, lantai dasar terbilang lebih ramai dibandingkan dengan lantai-lantai lainnya. Salah satu alasannya ialah karena toko-toko tersebut juga membuka penjualan secara online.

"Kalau yang di atas-atas sini kan banyak yang nggak buka online, hanya toko di sini aja. Jadinya sepi. Makanya yang di bawah itu masih lumayan," jelasnya.



Simak Video "Sandiaga Uno Sebut Pecinan Glodok Punya Storynomics Tourism"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT