ADVERTISEMENT

Begini Susahnya 'Damaikan' Rusia dengan Negara Penentang di G20

Anisa Indraini - detikFinance
Jumat, 23 Sep 2022 19:45 WIB
Momentum Tingkatkan Kesejahteraan Masyarakat Dunia Secara Merata
Foto: Dok. Kemendag: Rangkaian Forum KTT G20 di Bali
Nusa Dua -

Indonesia menjadi tuan rumah dalam penyelenggaraan G20 saat kondisi sedang sulit. Kondisi ekonomi dunia belum sepenuhnya pulih imbas pandemi COVID-19, ditambah lagi masalah geopolitik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kementerian Perdagangan Djatmiko Bris Witjaksono blak-blakan sulitnya mendamaikan Rusia dan Ukraina karena ada perbedaan pandangan sejumlah negara dalam membahas hal tersebut. Ini lah yang menyebabkan belum adanya kesepakatan bersama Negara G20 tentang masalah geopolitik.

"Kita mendekatkan posisi gap yang ada antara 2 kubu. Satu negara Barat melihat disrupsi dan sebagainya ini karena perang. Rusia sebaliknya, ini karena sanksi yang ditetapkan oleh Barat sehingga terdisrupsi. Kalau Indonesia bilang stop kan perang, kasarnya 'lu berhentiin aja perang selesai urusannya', itu kita sampaikan," kata Djatmiko kepada wartawan di Sofitel Nusa Dua, Bali, Jumat (23/9/2022).

Sayangnya upaya Indonesia mencoba mendamaikan Rusia dan Ukraina sampai saat ini belum menunjukkan hasil. Djatmiko menyebut pihak Indonesia sudah mencoba menawarkan berbagai usulan sebagai jalan tengah antara negara penentang perang, dengan Rusia, namun masing-masing pihak tidak sepakat.

"Susahnya itu kayak bukan mindahin gunung, (tapi) mindahin separuh dunia itu kalau nggak mindahin planet, mindahin bulan. (Kenapa susah) buat saya nggak peduli kenapanya, yang penting kalian selesai gitu aja," tuturnya.

Dia mengaku hanya tidur 1-2 jam dalam beberapa hari ini karena ada pertemuan Trade, Investment, and Industry Working Group (TIIWG) pada 19-20 September 2022 dan Trade, Investment, and Industry Ministerial Meeting (TIIMM) yang berlangsung 22-23 September 2022.

"Mungkin rezeki Indonesia jadi presidensi saat situasi seperti ini. Pasti ada hikmah, pasti ada sisi positif," harapnya.

Djatmiko menyebut yang mengusulkan pembahasan geopolitik bukan Indonesia, melainkan dari negara G7 yang mengutuk keras adanya perang Rusia dan Ukraina yaitu Prancis, Jerman, Italia, Jepang, Amerika Serikat (AS), Inggris dan Kanada. Nah sebagai tuan rumah, Indonesia mencoba mengambil langkah proaktif.

Saat ditanya apakah isu geopolitik ini akan kembali dibahas pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 November 2022 mendatang, Djatmiko tidak bisa memastikannya. "Saya nggak bisa jawab, tergantung nanti jawabannya. Kalau menurut saya mungkin enggak," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan atau Zulhas mengakui susahnya mencapai kesepakatan terkait persoalan geopolitik. "Memang itu berat, geopolitik itu posisinya jelas ada sebelah sini ada sebelah sana," imbuhnya.

(aid/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT