BUMN Karya Lagi Megap-megap: Utang Menggunung, Kontrak Baru Lesu

ADVERTISEMENT

BUMN Karya Lagi Megap-megap: Utang Menggunung, Kontrak Baru Lesu

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Rabu, 28 Sep 2022 14:23 WIB
Logo baru Kementerian BUMN/Screenshot video
Foto: Logo baru Kementerian BUMN/Screenshot video
Jakarta -

BUMN karya atau konstruksi tengah menghadapi tantangan berat dalam jangka menengah. Ada dua faktor utama yang akan mempengaruhi kinerja perusahaan pelat merah tersebut.

Hal itu disampaikan Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo atau akrab disapa Tiko di Kementerian BUMN, Rabu (28/9/2022).

"Memang yang masih tantangan jangka menengah adalah sektor karya atau konstruksi karena pasca COVID, ada 2 isu, pertama dari sisi leverage utang mereka yang tinggi, yang kedua karena jumlah kontrak-kontrak baru menurun," kata Tiko.

Tiko mengatakan, pihaknya berupaya melakukan perbaikan untuk menghadapi tantangan tersebut. Dia menerangkan, untuk PT Waskita Karya (Persero) Tbk, pemerintah sebelumnya telah menyuntikkan modal Rp 10 triliun. Pemerintah akan kembali menyuntikkan modal Rp 3 triliun.

"Pemerintah telah melakukan injeksi Rp 10 triliun rights issue yang lalu, saat ini ada proses untuk injection rights issue kedua di kisaran Rp 3 triliun dan masih ada penjaminan sekitar Rp 7 triliun dari pemerintah," jelasnya.

Waskita memang memiliki beban yang berat. Tiko menjelaskan, sebelumnya Waskita mendapat tugas untuk menyelesaikan 12 hingga 14 tol. Sebagian tol tersebut sudah didivestasikan.

Tambahnya, yang menjadi tantangan saat ini ialah penyelesaian tol eksisting seperti Tol Becakayu, Tol Bocimi dan Tol Kapalbetung. Menurutnya, tol itu harus segera diselesaikan agar bisa didivestasikan.

Ia mengatakan, arus kas Wakskita saat ini akan terus dipantau. Kemungkinan, kata dia, Waskita akan direstrukturisasi ulang.

"Ini kita sedang pantau terus cashflow-nya dan memang tantangan untuk mendapatkan modal kerja baru menantang, kemungkinan untuk Waskita kita akan melakukan restrukturisasi ulang juga. Setelah nanti selesai kita melakukan restrukturisasi ulang dengan perbankan, tapi lebih ringan daripada restrukturisasi pertama," terangnya.

PT Wijaya Karya (Persero) Tbk dan PT PP (Persero) Tbk juga tengah menghadapi tantangan. Sebelum pandemi COVID-19, kedua perusahaan aktif investasi, baik dalam bentuk land bank maupun high rise building. Sementara, saat ini penjualan properti sangat lemah.

"Kita mulai melihat neraca mereka untuk kita lakukan restrukturisasi ringan Wika dan PP untuk memberikan ruang untuk mereka bisa me-recover investasi mereka dulu," sambungnya.



Simak Video "Jokowi Bicara Horor 90 Persen Startup Gagal saat Merintis"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT