WFH ala Ibu-ibu di Selaru, Raup Hampir Rp 10 Juta/Bulan dari Tenun

ADVERTISEMENT

WFH ala Ibu-ibu di Selaru, Raup Hampir Rp 10 Juta/Bulan dari Tenun

Yudistira Imandiar - detikFinance
Rabu, 12 Okt 2022 11:33 WIB
WFH ala Ibu-ibu di Selaru, Hasilkan Hampir Rp 10 Juta/Bulan dari Tenun
Foto: Agung Pambudhy/detikcom
Kepulauan Tanimbar -

Nyaris semua perempuan warga Kecamatan Selaru ahli dalam menenun. Berkat keahlian itu, mereka punya mata pencaharian untuk membantu menafkahi keluarga tanpa harus meninggalkan rumah.

Keahlian menenun warga Selaru diturunkan secara turun temurun dari nenek moyang. Kemampuan itu sudah mereka miliki sejak remaja, bahkan beberapa sudah mahir menenun sejak anak-anak.

Fera Lingansera, warga asli Desa Fursuy mengatakan keahlian menenun menjadi berkah buat wanita di Selaru. Sebab, sejak remaja mereka sudah bisa mencari uang sendiri dari hasil tenunnya.

Fera mengatakan perempuan di Selaru sangat tekun. Mereka giat bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga.

WFH ala Ibu-ibu di Selaru, Hasilkan Hampir Rp 10 Juta/Bulan dari TenunProses Pembuatan Kain Tenun Tanimbar Foto: Agung Pambudhy/detikcom

"Katong tidak hanya mengharapkan saja suami untuk memberikan nafkah, tapi ibu-ibu juga mendorong untuk bisa memberi nafkah. Sama-sama mendukung dan memberi motivasi," kata Fera saat berbincang dengan detikcom beberapa waktu lalu.

Fera menuturkan dia dan ibu-ibu lain di Fursuy terbiasa menenun setiap hari. Biasanya, kegiatan itu dilakukan pada malam hari saat listrik menyala.

"(Saya) pribadi setiap hari juga bikin tenun ini, tak pernah putus. Biar malam juga lampu menyala katong (kita) buat tenun. Kesempatan waktu menyala katong buat tenun supaya waktu lampu menyala hasil lebih terlihat dan lebih halus," jelas Fera.

Ia menyebut penghasilan yang diperoleh dari hasil tenun cukup besar. Selembar kain ukuran sekitar 2 x 1 meter bisa dijual Rp 600 ribu sampai Rp 1 juta.

Pembuatan kain tenun TanimbarProses Pembuatan Kain Tenun Tanimbar Foto: dok. Agung Pambudhy/detikcom

"Saya tenun satu lembar kalau dijual Rp 1 juta, itu juga kalau ada orang yang mau pesan langsung. Tapi kadang katong jual juga agak lama, tergantung pembeli. Kebanyakan katong (kita) bikin tenun, lalu jual ke Saumlaki katong titip di toko. Lalu katong mempercayakan pemilik toko itu untuk jual, misalnya hasil beberapa persen dibagi. Kalau dijual Rp 700 ribu, dia ambil Rp 100 ribu jadi katong terima Rp 600 ribu," papar Fera.

Hal senada diungkapkan Bilha Siprah Halirat, penenun asal Desa Kandar, Kecamatan Selaru. Ia mengungkapkan bisa membuat empat lembar kain tenun dalam seminggu. Kain buatannya lalu dikirim ke Saumlaki untuk dipasarkan di toko rekanan. Ia juga punya rekanan penjual di Kota Ambon.

"(Pemasaran) di Saumlaki (dan) Ambon. Kalau di Saumlaki seminggu sekali. Sekali kirim 4 lembar, (jual barang) di Toko Glora kerja sama," tutur Bilha.

Bersambung ke halaman selanjutnya. Langsung klik

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT