Wanti-wanti Petani, Harga Cabai Bisa Meroket Lagi Bulan Desember

ADVERTISEMENT

Wanti-wanti Petani, Harga Cabai Bisa Meroket Lagi Bulan Desember

Aulia Damayanti - detikFinance
Senin, 31 Okt 2022 17:16 WIB
Cabai di pasar Surabaya
Foto: Esti Widiyana/detikJatim
Jakarta -

Petani memprediksi pada bulan Desember 2022 harga cabai akan meroket lagi. Sementara penurunan harga cabai saat ini diproyeksi hanya sampai akhir November.

"Kita khawatirnya setelah (November) ini. Panen kan banyak daerah yang banjir, hujan. Harga cabai turun signifikan ini diprediksi sampai pertengahan atau akhir November," kata Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid, kepada detikcom, Senin (31/10/2022).

Meskipun menurut Hamid harga cabai tidak akan naik hingga mencapai Rp 100.000 per kilogram (kg) pada akhir tahun. Tetapi jika cuaca buruk terus berlangsung, dikhawatirkan banyak hama penyakit pada pertanian cabai, karena itu harga akan naik tinggi juga.

"Asumsinya sih nggak sampai ya. Tergantung tapi kalau banyak penyakitnya itu yang kita khawatirkan, sekarang kan banyak daerah yang hujan, banjir kalau sekarang banjir ini kan repot," ujarnya.

Apalagi, sekarang ini menurutnya periode panen raya tidak lagi panjang. Hal itu disebabkan karena tanah pertanian yang tak lagi sehat dan menyebabkan tanaman mati.

"Sekarang ini panen raya nggak panjang, karena banyak hasil petani ini cepat mati-mati, tanah kita ini kan sudah nggak sehat ya, ya sudah lama juga mengandalkan pupuk saja," jelasnya.

Untuk menghindari anjlok dan naiknya harga cabai, petani berharap ada kemitraan yang dibentuk pemerintah pada produksi cabai dari hulu ke hilir. Selain itu diharapkan juga ada pelatihan bagi petani cabai.

"Kalau harapannya ada kemitraan dibangun di hulu, dibangun budidayanya yang bagus gimana ke petani, dilatih produksinya. Itu harapannya," tuturnya.

Sementara dari sisi pedagang, Ketua Umum DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menyarankan kepada pemerintah agar ada pemetaan produksi.

"Oh di daerah ini ditahan dulu, atau produksi di mana saja, di-maintain, di-advokasi petani. Kalau dilepas gitu aja ya akan berat. Jadi ada dua pertama desain pangan dan kedua pemetaan produksi dan distribusi. Itu persoalan yang harus bisa selesai," ungkapnya.

Mansuri menuturkan bahwa saat ini harga pangan terutama cabai dilepas saja tidak ada intervensi atau upaya yang dilakukan pemerintah saat harga naik maupun turun.

"Jadi seperti seakan-akan pemerintah membiarkan menanam silahkan, rugi ya silahkan, agak berat. Jadi jangan kaget kalau harga drop sampai Rp 5.000/kg, pasokannya melimpah, permintaan nggak begitu banyak. Pertani.. pupuk tinggi," jelasnya.

(ada/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT