2022 Sudah Mau Usai, Dana PEN Baru Terserap Setengah Lebih

ADVERTISEMENT

2022 Sudah Mau Usai, Dana PEN Baru Terserap Setengah Lebih

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 05 Nov 2022 13:30 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi Tumpukan Uang/Foto: Rachman Haryanto
Bogor -

Realisasi dana Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) hingga 28 Oktober 2022 sudah mencapai Rp 256,28 triliun. Secara keseluruhan, realisasi PEN adalah 56,2% dari total yang dianggarkan Rp 455,62 triliun.

Jumlah ini naik dari laporan terakhir Kementerian Keuangan per 14 Oktober 2022. Saat itu, realisasi PEN tercatat Rp 240,8 triliun atau 52,9%.

"Alokasi PEN ini sudah terealisasi 56,2% sampai 28 Oktober, " kata Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Made Arya Wijaya dalam Media Briefing di Bogor, ditulis Sabtu (5/11/2022).

Dana PEN ini disalurkan ke beberapa pos penting, yang paling besar adalah untuk penanganan kesehatan. Jumlahnya mencapai Rp 43,3 triliun atau 35, 2% dari pagu Rp 122,54 triliun.Termasuk di dalamnya adalah insentif tenaga kesehatan, program vaksinasi dan dukungan APBN untuk penanganan COVID-19.

Alokasi PEN yang kedua adalah untuk perlindungan masyarakat. Dana yang sudah terserap Rp 113,9 triliun atau 73,6% dari pagu Rp 154,76 triliun.

Termasuk di dalamnya adalah untuk Program Keluarga Harapan (PKH) Rp 21,4 triliun, kartu sembako Rp 32,9 triliun, BLT minyak goreng Rp 7 triliun, BLT desa Rp 22,7 triliun, subsidi upah Rp 6,68 triliun, BLT BBM Rp 6,5 triliun, dukungan APBN untuk perlinmas Rp 1,6 triliun dan Bantuan Tunai untuk Pedagang Kakil Lima dan Warung Nelayan (BT-PKL WN) Rp 1,3 triliun.

Alokasi PEN yang ketiga adalah untuk penguatan pemulihan ekonomi, yang telah terealisasi Rp 99,2 triliun. Termasuk di dalamnya untuk sektor padat karya Ro 15,4 triliun, infrastruktur dan konektivitas Rp 12,3 triliun, pariwisata dan ekonomi kreatif Rp 6,1 triliun, ketahanan pangan Rp 16,2 triliun, TIK Rp 7,8 triliun, kawasan industri Rp 0,9 ttiliun, dan insentif perpajakan Rp 14, 1 triliun.

Meski PEN belum terserap sepenuhnya, tidak ada rencana untuk melakukan realokasi pemerintah pun tidak akan memaksakan untuk membelanjakan. Made menjelaskan belanja negara harus berkualitas, yaitu transparan, efisien, efektif dan untuk mengantisipasi ketidakpastian.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT