Catat! Rahasia Bisnis Kuliner Dilirik Investor biar Dapat Modal Usaha

ADVERTISEMENT

Catat! Rahasia Bisnis Kuliner Dilirik Investor biar Dapat Modal Usaha

Jihaan Khoirunnisa - detikFinance
Jumat, 18 Nov 2022 18:55 WIB
KraftHeinz Foodservice
Foto: Tangkapan Layar
Jakarta -

Dalam membangun sebuah bisnis tentu membutuhkan modal agar bisa terus berjalan. Hal ini mengingat pembelian bahan, alat, sewa tempat, serta membiayai operasional membutuhkan sejumlah modal.

Sayangnya, masalah permodalan ini kerap menjadi tantangan bagi para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM). Terbatasnya akses, membuat banyak UMKM kesulitan mendapatkan pembiayaan untuk mengembangkan bisnis dan usahanya.

Selain mengandalkan modal pribadi, sebetulnya pelaku usaha bisa mencari investor untuk mendapatkan modal usaha. Namun, Anda harus memiliki rencana bisnis yang matang terlebih dahulu. Hal ini agar bisa meyakinkan investor untuk berinvestasi ke bisnis Anda.

Chief Development Office LandX.Id, crowdfunding platform di Indonesia, Romario Sumargo menjelaskan ada beberapa hal yang mesti diperhatikan oleh foodpreneur untuk menggaet investor. Pertama, yaitu dengan mengenali tahapan bisnis yang sedang dijalankan. Apakah masih berada di tahap permulaan (early) atau sudah berkembang (growth).

"(Karena) stage yang berbeda, standarnya juga berbeda. Kita itu ada di stage mana? Apakah di early stage atau di stage yang sudah berkembang. Kalau di early stage, baru mulai, baru jalan, biasanya yang dilihat oleh investor itu dari sisi founder. Apakah dia punya pengalaman, track record-nya seperti apa," kata Romario dalam webinar Kembangkan Bisnis Kulinermu Volume 2 yang diadakan oleh KraftHeinz Foodservice Institute, September lalu.

Heinz Foto: Tangkapan Layar

Selain founder, kata dia, para investor juga melirik ide usahanya. Pastikan produk yang dijual memiliki unique selling point dari yang sudah ada di pasaran. Romario pun mencontohkan usaha ayam goreng.

Menurutnya saat ini banyak yang menjual ayam goreng. Karena itu ketika foodpreneur memutuskan menjual ayam goreng, lantas apa yang menjadi pembeda dengan ayam goreng lain.

"Kemudian product to market fit. Apakah produk kita diterima oleh market. Kalau tidak diterima, percuma. Serta business model. Bisnisnya modelnya seperti apa? Apakah hanya jualan offline, buka cabang. Atau misal via online," terangnya.

"Kemudian ada potential ROI. Biasanya yang dilihat itu return to investment-nya berapa. Potensinya ke depan itu berapa," tambahnya.

Sementara untuk bisnis yang sudah masuk ke tahap berkembang (growth), Romario pun merinci sejumlah hal yang menjadi pertimbangan para investor sebelum menginvestasikan uangnya.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT