Telur hingga Rokok Penyumbang Inflasi Pekan Ketiga November

ADVERTISEMENT

Telur hingga Rokok Penyumbang Inflasi Pekan Ketiga November

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Jumat, 18 Nov 2022 23:01 WIB
Jelang Lebaran harga telur ayam di sejumlah pasar tradisional di Jakarta, mengalami naik turun harga. Bahkan para pedagang telur ayam sudah akan ancang-ancang menaikkan kembali harga telur, pada saat H-7 Hari Raya Idul Fitri 2015. Pedagang tengah menata dagangan telurnya di Pasar Tradisional Maestik, Jakarta, Kamis (02/06/2015). Rengga Sancaya/detikcom.
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Bank Indonesia (BI) memperkirakan inflasi pada minggu ketiga November 2022 0,13%. Hal ini sesuai dengan Survei Pemantauan Harga.

Direktur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengungkapkan komoditas utama penyumbang inflasi November 2022 sampai dengan minggu ketiga yaitu telur ayam ras, tomat, dan rokok kretek filter masing-masing sebesar 0,02% (mtm).

"Untuk daging ayam ras, tempe, jeruk, sawi hijau, tahu mentah, beras, minyak goreng, air kemasan, dan emas perhiasan masing-masing sebesar 0,01% (mtm)," ujar Erwin dalam siaran pers, Jumat (18/11/2022).

Sementara itu, sejumlah komoditas yang menyumbang deflasi pada periode ini yaitu cabai merah -0,09%, (mtm), cabai rawit -0,03% (mtm), bawang putih -0,01% (mtm).

Tak cuma inflasi BI juga mencatat perkembangan nilai tukar periode 14-17 November 2022. Rupiah ditutup pada level Rp 15.660 per dolar AS.

Kemudian yield surat berharga negara (SBN) 10 tahun turun ke 7,01%. DXY menguat ke level 106,69 dan Yield US Treasury Note 10 tahun turun ke level 3,690%.

Premi CDS Indonesia 5 tahun naik ke 111,99 bps per 17 November 2022 dari 103,32 bps per 11 November 2022.

Berdasarkan data transaksi 14-17 November 2022, nonresiden di pasar keuangan domestik jual neto Rp 1,02 triliun terdiri dari beli neto Rp 1,83 triliun di pasar SBN dan jual neto Rp 2,84 triliun di pasar saham.

"Selama tahun 2022, berdasarkan data setelmen sampai dengan 17 November 2022, nonresiden jual neto Rp 166,14 triliun di pasar SBN dan beli neto Rp 75,83 triliun di pasar saham," jelas dia.

Erwin menambahkan BI terus memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait serta mengoptimalkan strategi bauran kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung pemulihan ekonomi lebih lanjut.

(kil/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT