Memancing Minat Milenial Pada APBN

ADVERTISEMENT

Kolom

Memancing Minat Milenial Pada APBN

Muhammad Nur - detikFinance
Kamis, 24 Nov 2022 20:05 WIB
Bank Indonesia mencatat hingga akhir April 2013 jumlah uang kartal (uang tunai) yang beredar mencapai Rp 392,2 triliun. Menurut pejabat BI, kebutuhan uang tunai itu akan terus meningkat memasuki bulan Ramadan dan Lebaran mendatang. File/detikFoto.
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Jika kita survei, mungkin masih sedikit generasi milenial yang paham mengenai keuangan negara. Padahal, hampir di setiap aspek kehidupan kita semua terkait dengan keuangan negara. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dalam sebuah artikel menyatakan bahwa di era sekarang dimana gaya hidup sangat dinamis namun pengetahuan generasi milenial akan pengelolaan keuangan yang masih minim membuat mereka merasa sulit untuk mengatur keuangannya (sikapiuangmu.ojk.go.id).

Di sisi lain, Nigntyas (2019) menyatakan bahwa kurangnya literasi keuangan dapat berdampak pada pembuatan keputusan yang salah dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini akan berpengaruh pada pengelolaan keuangan yang buruk dan tidak efektif yang juga dapat mengakibatkan perilaku masyarakat yang rentan akan krisis keuangan dan berpotensi mengalami kerugian akibat kejahatan di sektor keuangan (Jurnal Ilmiah Bisnis dan ekonomi Asia, volume 13 no.1, hal.20-27). Hal senada juga diungkapkan dalam sebuah riset, bahwa generasi muda Indonesia memiliki literasi keuangan yang rendah (idntimes.com, 23 Agustus 2021).

Sebagai generasi penerus estafet pembangunan bangsa, generasi muda tentu harus kuat literasi keuangannya. Mengapa demikian? Dilansir dari feb.unair.ac.id, setidaknya terdapat empat alasan mengapa generasi muda penting untuk meningkatkan literasi keuangannya. Pertama, peran generasi muda sebagai critical economic players. Artinya generasi muda inilah yang dalam beberapa tahun atau dekade kedepan akan menjadi para "pemain ekonomi" di negeri ini atau bahkan dunia.

Tahun 2020 saja dinyatakan bahwa terdapat lebih dari 145 juta jiwa yang merupakan generasi muda. Kedua, fakta bahwa literasi keuangan generasi muda relatif rendah. Maka, diperlukan keterbukaan hati dan pemikiran pada para generasi muda agar tidak hanya terkungkung oleh kemudahan teknologi informasi dan internet semata. Diharapkan generasi muda lebih peka terhadap setiap pergerakan, perubahan, atau informasi yang viral di media massa dan media sosial. Ketiga, generasi muda juga lebih rentan dari segi finansial.

Kita sama-sama mengetahui bahwa dengan adanya kemudahan-kemudahan yang ada saat ini maka akan menjadi pemantik bagi generasi muda untuk relatif lebih bersenang-senang semata dibandingkan menabung atau berinvestasi untuk menambah aset. Lalu keempat, generasi muda saat ini sangat mudah menjadi follower dan mengikuti ajakan para influencer. Sudah sering kita dengar berita mengenai dilaporkannya beberapa influencer terkait kasus robot trading atau investasi bodong.

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT