Aktivis Desak Pemerintah Percepat Sertifikasi-Pelabelan BPA

ADVERTISEMENT

Aktivis Desak Pemerintah Percepat Sertifikasi-Pelabelan BPA

Atta Kharisma - detikFinance
Senin, 28 Nov 2022 10:31 WIB
Ilustrasi BPA Free
Foto: Shutterstock
Jakarta -

Senyawa kimia Bisphenol A (BPA) belakangan semakin akrab terdengar di telinga masyarakat, terutama berkat pemberitaan di media nasional. Ketua Harian Net Zero Waste Management Consortium Amalia S Bendang mengungkapkan edukasi tentang bahaya BPA pada air minum kemasan galon plastik polikarbonat membuat masyarakat sadar akan potensi bahaya dari air galon yang dikonsumsi.

"Berbagai publikasi ilmiah mutakhir menunjukkan berbagai dampak fatal akibat toksisitas BPA pada kelompok dewasa dan usia produktif, antara lain bisa mempengaruhi fertilitas, menyebabkan keguguran dan komplikasi persalinan, obesitas, dan berbagai penyakit metabolik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (28/11/2022).

"Dampak BPA pada kelompok usia anak-anak dapat menyebabkan depresif, ansietas, perilaku anak menjadi hiperaktif, emosional dan tidak stabil, dan kekerasan yang berpengaruh terhadap dopamine, serotonin, acetylcholine, dan thyroid," sambungnya.

Amalia menjelaskan BPA merupakan bahan kimia yang kerap ditambahkan ke banyak produk komersial, termasuk wadah pangan untuk makanan dan minuman. Plastik yang mengandung campuran BPA biasanya digunakan sebagai wadah makanan, botol minuman, botol susu bayi dan barang lainnya.

"BPA juga lazim digunakan untuk membuat resin epoxy yang dimanfaatkan sebagai lapisan dalam wadah makanan kaleng untuk menjaga agar logam tidak cepat berkarat," imbuhnya.

"Sebagai bahan kimia, BPA adalah material bahan berbahaya dan beracun (B3), karena sifat, konsentrasi atau jumlahnya baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemari lingkungan hidup dan kesehatan manusia," terang Amalia.

Sementara itu, aktivis sekaligus pencetus gerakan Blood for Life Valencia Mieke Randa mengimbau masyarakat memilih air minum yang aman dan sehat untuk keluarga. Hal tersebut ia sampaikan sebagai ajakan pribadi dari seorang ibu yang peduli akan kesehatan anak dan keluarga.

Lebih lanjut, Valencia menyebutkan masyarakat sekarang luput dari penggunaan air minum yang sehat. Padahal, air minum adalah hal paling esensial bagi manusia.

"Inilah pentingnya edukasi bagi masyarakat untuk semakin sadar akan pentingnya air minum yang paling esensial bagi kehidupan manusia, dan semakin kritis dalam memilih air minum yang akan dikonsumsi untuk keluarga," ungkapnya.

Valencia mengatakan masyarakat harus lebih teliti dan kritis dalam mencermati kebersihan dan kenyamanan air yang diminum sehari-hari. Termasuk, memastikan wadah makanan dan minuman yang digunakan benar-benar aman dari bahan kimia berbahaya seperti BPA.

"Sebagai ibu, saya tentu saja sangat peduli dengan segala hal yang berhubungan dengan Kesehatan. Dari informasi yang saya baca, banyak sekali air kemasan yang menggunakan wadah bercampur BPA, di mana jika tidak sengaja terkonsumsi akan berisiko memicu penyakit jantung, kanker, kelainan organ hati, diabetes, gangguan otak dan gangguan perilaku pada anak kecil," urainya.

Desakan untuk Mempercepat Pelabelan BPA

Valencia meminta pemerintah dan organisasi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai kandungan BPA dalam kemasan makanan dan minuman yang beredar di masyarakat. Ia menambahkan masyarakat luas juga perlu terus diedukasi, sehingga menjadi lebih tenang dan tahu dalam memilih yang terbaik untuk keluarga.

"Saya mendorong pemerintah untuk segera menerbitkan label BPA free dan sertifikasi BPOM," katanya.

Valencia mengungkapkan pemerintah, dalam hal ini BPOM, harus mempercepat pelabelan BPA pada kemasan galon air minum.

"Saya rasa ini (pelabelan BPA) akan membantu para orangtua, terutama kaum ibu, sebagai orang yang menentukan apa yang dikonsumsi oleh keluarga, jadi mereka lebih bisa memilih apa yang terbaik dan aman untuk kesehatan keluarga mereka," sebutnya.

Seperti diketahui, BPA memiliki bahaya residu dari proses luluhnya partikel tersebut dari galon plastik PC ke dalam air minum. Residu inilah yang dapat menyebabkan gangguan pada manusia dewasa dan anak-anak.

Indonesia sendiri saat ini ketergantungan terhadap produksi galon plastik keras polikarbonat (PC) yang bercampur bahan kimia BPA. Ketergantungan konsumen Indonesia pada galon polikarbonat bekas pakai yang mengandung BPA ini tampak pada produksi air minum kemasan tahun 2021 yang telah mencapai 30 miliar liter, dengan nilai penjualan sebesar Rp 48 triliun.

Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, 4 dari 10 rumah tangga di Indonesia mengonsumsi air minum dalam kemasan, baik dalam bentuk kemasan galon maupun kemasan botol. Dari tiga segmen air kemasan bermerek, penjualan air minum kemasan botol tercatat sebesar Rp 22,6 triliun, disusul air minum dalam kemasan galon sebesar Rp 20,1 triliun, dan air minum dalam kemasan gelas sebesar Rp 4,8 triliun.

Data statistik industri mencatat, terdapat sekitar 1,17 miliar/tahun galon beredar di pasar. Dari jumlah tersebut, 80% galon bermerek yang beredar di pasar merupakan galon kemasan dengan jenis plastik polikarbonat, sedangkan sisanya merupakan galon kemasan plastik dari jenis Polyethylene Terephthalate (PET).



Simak Video "Bahas Tuntas Risiko Pelabelan yang Mengandung BPA di Kemasan Plastik"
[Gambas:Video 20detik]
(ega/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT