Sektor Pertanian Jadi Senjata RI Lawan Krisis

ADVERTISEMENT

Sektor Pertanian Jadi Senjata RI Lawan Krisis

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 09 Des 2022 11:53 WIB
Menteri Pertanian RI Amran Sulaiman bersama Founder Artha Graha Peduli (AGP) Tomy Winata memanen padi hibrida seluas 23 hektar di desa Sukamandi, Kecamatan Ciasem, Kabupaten Subang Jawa Barat, Jumat (20/11/2015). Padi Hibrida Bernas Prima 3 dan Bernas Super 2 ini menunjukan hasil yang luar biasa dengan produksi sangat tinggi dimusim tanam off season dan tahan banting ditengah ancaman el nino yang melanda Indonesia. Rachman Haryanto/detikcom.
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Performa sektor pertanian nasional terbukti masih solid dan tahan guncangan. Ini terjadi di tengah ketidakpastian ekonomi dan tekanan krisis energi akibat perang Rusia-Ukraina.

Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertanian sebagai sektor ketiga yang berkontribusi besar terhadap produk domestik bruto (PDB) kuartal III/2022. Persentasenya mencapai 12,91%.

Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Eliza Mardian mengatakan, bertahannya sektor pertanian sebagai pendorong laju ekonomi tak lepas dari berbagai upaya yang dilakukan pemerintah.

"Sektor pertanian dalam kondisi krisis dan pandemi pun tetap menjadi andalan penopang perekonomian," katanya dalam keterangan tertulis, Jumat (9/12/2022).

Ia mengatakan, pertanian juga masih menjadi sektor yang mampu menyerep tenaga kerja dalam jumlah terbesar, yakni lebih dari 27%.

Eliza menyebut harga pangan yang tinggi dan berfluktuasi memang dapat memengaruhi gerak inflasi serta PDB di sektor pertanian. Namun apabila kenaikan harga pangan ada pada level petani, maka hal itu akan meningkatkan kontribusi pertanian terhadap pertumbuhan ekonomi.

"Karena outputnya harga kan dikali dengan kuantitas. Kalau harga pangan naiknya di level petani, itu akan berdampak pada peningkatan PDB," ujarnya.

Apalagi, belum lama ini Kementerian Pertanian menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian No. 10/2022 tentang Tata Cara Penetapan Alokasi dan HET Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian.

Dalam regulasi tersebut, terdapat perubahan kebijakan mengenai jenis pupuk subsidi yang semula Urea, SP36, ZA, NPK, dan Orgaik berubah menjadi Urea dan NPK.

PT Pupuk Indonesia (Persero) selaku produsen dan distributor pupuk subsidi yang mendistribusikan pupuk subsidi sesuai aturan yang direkomendasikan Panja Komisi IV DPRD.

Hingga 31 Oktober 2022, PT Pupuk Indonesia telah menyalurkan pupuk bersubsidi sebesar 77,3% dari total yang dialokasikan. Sementara itu per 31 Oktober 2022, penyerapan Urea mencapai 73,8% dan NPK 79,4%.

Tak hanya itu, Pupuk Indonesia juga telah bersikap tegas terhadap para penyalahguna penyaluran pupuk subsidi dengan meningkatkan pengawasan dan koordinasi dengan kepolisian.

Simak juga Video: Swedia dan Indonesia Jalin Kerja Sama Jangka Panjang untuk Ekonomi Hijau

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT