Ekonomi China 'Diobrak-Abrik' Corona Lagi, RI Bisa Kena Getahnya

ADVERTISEMENT

Ekonomi China 'Diobrak-Abrik' Corona Lagi, RI Bisa Kena Getahnya

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Senin, 23 Jan 2023 20:00 WIB
COVID-19 masih merajalela di negara China. Warga rela antre berdesakan untuk membeli reagen antigen COVID-19 di sebuah apotek.
Warga China antre beli antigen (Foto: CFOTO/Getty Images)
Jakarta -

Memasuki awal 2023, China dilaporkan mengalami lonjakan kasus Covid-19 tak lama setelah melonggarkan kebijakan aturan pembatasan. Diketahui, Pada 7 Desember 2022 China melonggarkan aturan pembatasan Covid-19 dengan harapan ekonominya bisa terdorong.

Namun, setelah kebijakan tersebut dilonggarkan, beberapa kota yang sejak awal bergelut hebat dengan Covid-19 justru mengalami penurunan aktivitas ekonomi yang tajam. Hal tersebut semakin mengkhawatirkan karena sebagian populasi China juga tidak divaksinasi.

Tiongkok juga sudah membuka perbatasan internasional mereka pada 8 Januari 2023 lalu. Pembukaan perbatasan juga hanya berselisih hitungan hari dari periode liburan terbesar di China yakni tahun baru Imlek yang jatuh pada 22 Januari 2023.

China resmi membuka perbatasan internasional dengan memberikan sejumlah pelonggaran. Di antaranya penghapusan karantina bagi pelancong serta diizinkannya warga China bepergian ke luar negeri, hal ini menjadi polemik di tengah kondisi China yang sedang berperang dengan lonjakan Covid-19.

Mengantisipasi hal tersebut, sejumlah negara di dunia baik barat hingga Asia lantas memberlakukan pengawasan ketat bagi para pelaku perjalanan dari China yang tiba di negara masing-masing. Beberapa negara yang telah mengeluarkan aturan protokol dan pengawasan ketat termasuk Amerika Serikat, Jepang, Italia, Malaysia, dan India.

Melihat situasi Covid-19 di China, International Monetary Fund (IMF) menyebut kondisi ekonomi regional dan global akan terdampak selama beberapa bulan ke depan. Pada Oktober lalu, IMF memangkas prospek pertumbuhan ekonomi global pada 2023 dari 2,9% menjadi 2,7%. Hal ini juga tercermin melalui hambatan yang terus berlanjut dari perang Rusia - Ukraina, tekanan inflasi hingga suku bunga tinggi.

Dalam Survei World Economics menunjukkan kepercayaan bisnis China turun ke level terendah sejak Januari 2013. Survei menunjukkan aktivitas bisnis turun tajam pada bulan Desember 2022 dengan indeks manajer penjualan di sektor manufaktur dan jasa yang keduanya di bawah level 50. Tidak hanya itu, survei secara kuat menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi China telah melambat secara dramatis, dan memungkinkan akan menuju resesi pada tahun 2023.

Lonjakan Covid-19 di Tiongkok picu kekhawatiran global

Juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Ned Price, mencatat bahwa ada dampak ekonomi dari penyebaran Covid-19 yang merajalela tidak hanya untuk Tiongkok, tetapi untuk dunia yang lebih luas.

Menurut Ned Price, investor memang menyambut baik pelonggaran kebijakan 'nol-Covid' Tiongkok sebagai kabar baik bagi ekonomi dunia dalam jangka panjang. Namun, banyak yang khawatir akan dampak jangka pendek dari lonjakan kasus itu terhadap perdagangan dan industri secara global.

Bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?

Dampak paling terasa yang akan muncul adalah terkait perdagangan ekspor-impor. Ketika ekonomi China menurun, artinya permintaan komoditas ke Indonesia tentunya juga berkurang. Selain itu, rendahnya permintaan juga bisa berdampak ke dalam negeri, sebab China merupakan pasar ekspor terbesar Indonesia.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia ke China memiliki kontribusi 26.5% dari total ekspor untuk periode Januari - November 2022. Sehingga, era tergelap yang dihadapi China akan turut menarik Indonesia ke dalamnya.

CEO Grant Thornton Indonesia Johanna Gani mengatakan tidak dapat dipungkiri, lonjakan kasus Covid-19 di Tiongkok beberapa waktu belakangan ini memperlambat proses pemulihan ekonomi secara global.

"Hal ini terjadi karena Tiongkok merupakan sumber ekspor penting bagi industri manufaktur dan juga merupakan pasar penting bagi banyak komoditas global seperti minyak sawit mentah, tembaga, kedelai, batu bara, dan bijih besi dan baja," kata Johanna dalam keterangannya, Senin (23/1/2023).

Menjawab kekhawatiran tersebut, kata Johanna, negara-negara ASEAN dan juga Indonesia telah cukup menjaga kondisi makro ekonomi yang ditunjukkan dengan meningkatnya pola konsumsi dan tingkat pendapatan.

"Bank Indonesia juga terbukti telah melakukan tugasnya untuk menjaga stabilitas struktural rupiah sehingga diharapkan dampak meledaknya Covid-19 di Tiongkok terhadap perekonomian bisa berada di level minimum, hal tersebut juga didukung dengan dilonggarkannya kebijakan zero covid policy dari pemerintah Tiongkok yang secara tak langsung akan menopang pergerakan nilai tukar rupiah," lanjut Johanna.

"Meskipun begitu, pemerintah tetap harus siap siaga mengantisipasi skenario terburuk dalam rangka untuk menstabilisasi pasar dalam negeri dan memastikan ketersediaan pasokan dalam negeri. Tidak hanya itu, secara jangka panjang Indonesia harus melihat hal ini sebagai peluang dengan menjangkau pasar ekspor-impor yang selama ini didominasi oleh Tiongkok untuk mengurangi ketergantungan yang berlebihan," tutup Johanna.

(fdl/das)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT