Impor Indonesia naik 18,21% pada Januari 2026 dengan nilai mencapai US$ 21,20 miliar. Salah satu komoditas yang impornya naik tinggi yaitu logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Australia mencapai US$ 507,59 juta pada Januari 2026. Jumlah itu naik tinggi hingga 634,30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy).
"Ternyata perhiasan atau logam mulia banyak diimpor dari Australia dengan share 47,54% atau tumbuh 634,30% secara tahunan," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Senin kemarin.
Komoditas logam mulia dan perhiasan/permata menjadi salah satu komoditas impor non migas dari Australia dengan total nilai US$ 1,07 miliar. Sisanya ada serealia dengan nilai US$ 157,75 juta dan bahan bakar mineral US$ 77,92 juta.
"Total impor non migas dari Australia tercatat sebesar US$ 1,07 miliar. Ini terutama didominasi impor logam mulia dan perhiasan/permata," jelas Ateng.
Selain dari Australia, Indonesia juga tercatat impor logam mulia dan perhiasan/permata dari Uni Emirat Arab (UEA). Meski demikian, nilainya lebih kecil yakni senilai US$ 511,1 juta sepanjang 2025.
"Ternyata bukan hanya dari Australia, dari UEA juga ternyata kita impor logam mulia dan perhiasan sebesar US$ 511,1 juta. Jadi lebih kecil dibandingkan dari Australia," tutur Ateng.
Di sisi lain, Indonesia juga ekspor logam mulia dan perhiasan/permata ke UEA sebesar US$ 183,6 juta sepanjang 2025. "Kita tadi impor, tetapi kita juga ekspor," tambah Ateng.
Tonton juga video "Zulhas Pastikan Impor 1.000 Ton Beras dari AS Hanya untuk Beras Khusus"
(aid/fdl)