PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI) menghadirkan sistem resi gudang (Warehouse Receipt) merupakan sebuah sistem yang dapat mendukung pembiayaan sektor komoditas di Indonesia, khususnya bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha di sektor pangan. Melalui skema ini, komoditas yang disimpan di gudang dapat dijadikan jaminan untuk memperoleh pembiayaan dari lembaga keuangan.
Dalam operasionalnya, ekosistem resi gudang didukung oleh anak usaha KBI yaitu PT Kliring Perdagangan Berjangka Indonesia (KPBI). Perusahaan ini berperan dalam pengembangan bisnis serta pengelolaan gudang dalam sistem resi gudang.
Direktur Pengembangan Bisnis dan Operasional PT Kliring Berjangka Indonesia (KBI), Saidu Solihin menyampaikan bahwa sistem resi gudang bertujuan untuk membantu pelaku usaha komoditas agar tidak terpaksa menjual hasil panennya saat harga sedang rendah.
"Pada saat musim panen, suplai komoditas biasanya melimpah sehingga harga turun. Dengan sistem resi gudang, komoditas bisa disimpan terlebih dahulu di gudang resmi, lalu pemiliknya mendapatkan resi sebagai bukti kepemilikan," ujar Saidu kepada media, Senin (9/3/2026).
Resi tersebut berfungsi layaknya dokumen kepemilikan seperti BPKB pada kendaraan. Dokumen ini dapat diagunkan ke perbankan atau lembaga pembiayaan sehingga pemilik komoditas tetap memperoleh dana untuk kebutuhan produksi berikutnya tanpa harus langsung menjual barangnya.
Adapun komoditas yang dapat masuk dalam skema resi gudang umumnya merupakan komoditas yang memiliki masa simpan relatif lama, minimal sekitar tiga bulan ke atas. Dengan masa simpan tersebut, komoditas dapat disimpan terlebih dahulu di gudang hingga harga di pasar kembali stabil atau meningkat sebelum akhirnya dijual.
Di banyak negara maju, skema tersebut telah menjadi bagian penting dari rantai pasok komoditas dan pembiayaan sektor pertanian. "Kami melihat di negara lain seperti Amerika Serikat, sistem ini sudah berkembang sejak lebih dari satu abad lalu. Bahkan di beberapa negara Asia seperti Vietnam, Thailand, dan China pemanfaatannya sudah jauh lebih maju dibandingkan Indonesia," tambah Saidu.
KBI menilai tantangan utama pengembangan sistem ini masih berada pada tingkat sosialisasi dan pemahaman para pelaku usaha. Potensi komoditas Indonesia yang sangat besar dinilai sangat mendukung penerapan skema resi gudang tersebut.
Dengan pemanfaatan yang lebih luas, sistem resi gudang diharapkan tidak hanya membantu stabilisasi harga komoditas, tetapi juga memperkuat pembiayaan sektor pertanian dan mendukung upaya kedaulatan pangan di Indonesia.
(kil/kil)