×
Ad

Sejarah Hari Buruh 1 Mei, dari Eksploitasi Pekerja hingga Tragedi Berdarah

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 01 Mei 2026 12:00 WIB
Ilustrasi/Foto: Gilang Faturahman/detikfoto
Jakarta -

Hari ini 1 Mei, Indonesia bersama banyak negara di dunia memperingati Hari Buruh atau May Day. Peringatan untuk para buruh ini bukan sekadar hari libur belaka, melainkan sebagai simbol perjuangan pekerja dalam menuntut hak atas kehidupan yang layak.

Sebab di balik peringatannya, Hari Buruh memiliki sejarah panjang dan kelam yang menjadi tonggak lahirnya solidaritas untuk para buruh di berbagai negara.

Dikutip dari situs resmi Industrial Workers of the World (IWW), Jumat (1/5/2026), hari buruh bermula dari perjuangan para pekerja pada abad ke-18. Kala itu banyak pekerja dipaksa bekerja hingga 10-16 jam sehari dalam kondisi yang tidak layak.

Bahkan kematian dan cedera dianggap sebagai hal biasa di banyak tempat kerja. Tercatat ribuan pria, wanita, dan anak-anak meninggal sia-sia setiap tahun di tempat kerja, dengan harapan hidup hanya sampai usia awal dua puluhan di beberapa industri, dan sedikit harapan bagi mereka untuk keluar dari kemiskinan selain kematian.

Kondisi ini kemudian mendorong banyak kaum pekerja meminta mempersingkat hari kerja tanpa pengurangan upah pada awal tahun 1860-an. Namun, baru pada akhir tahun 1880-an serikat pekerja mampu mengumpulkan kekuatan yang cukup untuk mendeklarasikan sistem 8 jam kerja sehari.

Proklamasi ini tentu disampaikan tanpa persetujuan dari pengusaha, namun dituntut oleh banyak anggota kelas pekerja. Walau pada akhirnya sistem ini tentu tidak bisa berjalan sesuai harapan karena para buruh dan pekerja waktu itu tetap dipaksa untuk bekerja selama belasan jam.

Hingga pada 1884, dalam sebuah konferensi di Chicago-Amerika Serikat (AS), Federation of Organized Trades and Labor Unions atau FOTLU (saat ini sudah berganti nama jadi American Federation of Labor) dengan tegas memproklamirkan bahwa "delapan jam akan menjadi hari kerja yang sah mulai tanggal 1 Mei 1886."

Pada tahun-tahun berikutnya, FOTLU terus menyuarakan tuntutan ini dan mendapatkan banyak dukungan dari serikat buruh di AS lainnya seperti Knights of Labor, Trades and Labor Assembly, serta Socialistic Labor Party.



Simak Video "Video 400 Ribu Buruh hingga Ojol Bakal Padati Monas saat May Day"


(igo/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork