Ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) massal dalam waktu dekat disuarakan oleh serikat pekerja. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan adanya potensi PHK massal dalam tiga bulan ke depan imbas pecahnya perang di Timur Tengah.
Serikat pekerja disebut sudah diajak berdiskusi oleh perwakilan perusahaan terkait potensi pengurangan tenaga kerja. Menurut Presiden KSPI Said Iqbal, ancaman PHK paling terasa di sektor tekstil dan produk tekstil (TPT), termasuk benang, kain, hingga polyester.
"Tapi realitanya, laporan dari anggota KSPI, bukan orang lain, serikat pekerja di perusahaan, terutama di sektor industri TPT, tekstil dan produk turunannya. Benang, kain, dan polyester dan sebagainya," katanya dalam konferensi pers virtual, Senin (4/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Buruh Usulkan Pemerintah Bentuk Satgas PHK |
Sektor kedua yang terancam melakukan PHK adalah industri plastik akibat lonjakan harga bahan baku impor. Industri ini menghadapi tekanan karena bahan baku yang membuat biaya produksi melonjak seiring pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Kenaikan harga plastik disebut berdampak pada turunnya daya beli masyarakat, yang pada akhirnya menekan permintaan dan berpotensi memicu PHK di sektor tersebut.
"Kemudian industri plastik, karena harga bahan baku plastik naik tajam, sehingga industri kesulitan. Dia kan bahan bakunya impor, polimer impor, petrokimia banyak yang impor. Begitu diproduksi, impor kan berarti beli barangnya pake dolar, jualnya di pasar domestik pakai rupiah, sedangkan harga rupiah anjlok terhadap dolar, ya buntung lah, makanya harga plastik naik," jelas Said Iqbal.
"Nah kalau harga plastik naik sampai 50%, daya beli masyarakatnya jadi menurun. Ada ibu-ibu cerita yang jualan di pasar biasa bungkus pake plastik, sekarang pake daun. Nah itu kan plastik turun. Itu kan ancaman PHK di industri plastik," sambung dia.
Dampak lanjutan juga bisa merembet ke industri lain seperti elektronik dan otomotif yang banyak menggunakan komponen berbahan plastik. Ia pun berharap ketegangan di Timur Tengah antara Israel dan Amerika Serikat melawan Iran bisa segera mereda.
"Begitu pula industri elektronik bisa kena. Mudah-mudahan perang bisa kembali damai, selesai sehingga bisa turun harga plastik. Tapi nggak semudah itu kata perusahaan-perusahaan, dalam 3 bulan kepada serikat pekerja, di elektronik kan pakai plastik frame nya. Di otomotif spakbor, beberapa komponen lain juga pake plastik," bebernya.
Selain itu, sektor semen juga menghadapi tekanan akibat kelebihan pasokan atau oversupply. Di tengah permintaan yang melemah akibat perang, masuknya pabrik baru justru memperketat persaingan dan mendorong efisiensi tenaga kerja.
"Apalagi sekarang dalam suasana perang. Permintaan terhadap semen kan berkurang. Udah mah oversupply, pabrik baru bikin lagi kemudian izinnya diberikan dan mulai operasional, permintaan semen akibat semen turun. Ya otomatis terjadi efisiensi buruh dan pekerja ya PHK," sebut dia.
Said Iqbal menyebut hingga saat ini belum ada respons resmi yang diterima buruh dari pemerintah. Ia juga menyebut belum ada rencana diskusi mengenai ancaman PHK massal ini.
(ily/acd)










































