Pertumbuhan Ekonomi Singapura Melambat Jadi 5,7% di Kuartal II

Pertumbuhan Ekonomi Singapura Melambat Jadi 5,7% di Kuartal II

Andi Hidayat - detikFinance
Selasa, 14 Jul 2026 12:55 WIB
Tak ada yang tak mengenal patung merlion. Tak hanya menjadi ikon nasional, merlion pun menjadi daya tarik andalan pariwisata Singapura, tepatnya di Merlion Park
Ilustrasi/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Pertumbuhan ekonomi Singapura melambat di kuartal II-2026. Hal itu terjadi karena tekanan terhadap ekspansi di sektor konstruksi dan perdagangan grosir.

Dikutip dari Straits Times, Selasa (14/7/2026), ekonomi Singapura tumbuh 5,7% secara tahunan di kuartal II tahun ini. Namun angka tersebut melambat jika dibandingkan pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2026 sebesar 6,3%.

Kemudian, berdasarkan penyesuaian musiman secara kuartalan, perekonomian Singapura tumbuh 1,1%. Angka tersebut juga melambat jika dibandingkan kuartal I-2026, yakni sebesar 1,3%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ekspansi usaha melambat pada sektor konstruksi yang tercatat tumbuh 6,2% secara tahunan di kuartal II-2026. Sementara pada kuartal I-2026, pertumbuhan sektor konstruksi mencapai 12,9%.

ADVERTISEMENT

Kemudian berdasarkan data Kementerian Perdagangan dan Industri (MTI) Singapura, perdagangan grosir serta sektor transportasi dan penyimpanan tumbuh sebesar 6,3% di kuartal II-2026. Angka tersebut juga melambat jika dibandingkan periode kuartal sebelumnya, yakni sebesar 9,3%.

Meski demikian, sektor manufaktur mencatat pertumbuhan kuat sebesar 12,2% secara tahunan. Sementara pada kuartal I-2026, sektor tersebut menguat sebesar 8%.

MTI juga mencatat produksi sepanjang kuartal II-2026 ditopang oleh peningkatan output di klaster elektronik dan teknik presisi menyusul tingginya permintaan AI untuk semikonduktor dan peralatan manufaktur semikonduktor. Sementara di sektor manufaktur, klaster kimia dan biomedis mengalami kontraksi imbas gangguan pasokan bahan baku yang timbul akibat konflik di Timur Tengah.

Secara kuartalan setelah disesuaikan secara musiman, sektor manufaktur tumbuh sebesar 5,3%, berbalik dari kontraksi 2,2% pada kuartal pertama. Kemudian ekspor domestik non-minyak Singapura meningkat sebesar 38,4% pada bulan Mei dibandingkan dengan tahun sebelumnya, melanjutkan kenaikan 24,4% pada bulan April karena tingginya permintaan AI.

Ketidakpastian Ekonomi

Sejumlah analis meyakini sulit untuk melampaui laju pertumbuhan yang dicatat ekonomi Singapura pada kuartal I jika gejolak di pasar energi tidak kunjung mereda. Prospek ekonomi menjadi semakin tidak pasti setelah meningkatnya eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran baru-baru ini.

Harga minyak mentah yang turun ke level US$ 71 per barel setelah kesepakatan gencatan senjata, kembali menguat ke level di atas US$ 80 per barel. Namun, harga tersebut masih jauh dari puncak US$ 120 per barel beberapa minggu setelah AS dan Israel menyerang Iran pada akhir Februari.

Harga gas alam yang naik juga mendorong kenaikan tarif listrik di Singapura. Konflik di Timur Tengah juga menyebabkan kelangkaan minyak mentah dan produk-produk petroleum seperti bensin dan solar, yang berkontribusi pada kontraksi di segmen bahan bakar dan bahan kimia dalam sektor perdagangan grosir serta klaster bahan kimia di sektor manufaktur.

Perang AS dan Iran telah meredam prospek ekonomi yang bergantung pada perdagangan di seluruh Asia, termasuk Singapura. Ekonom senior Oxford Economics, Sheana Yue, mengatakan meskipun ekspor terkait AI diperkirakan tetap menjadi pendorong pertumbuhan utama, dampak konflik Timur Tengah yang tertunda, ketidakpastian biaya energi, dan pengiriman barang kemungkinan mengurangi permintaan domestik dan momentum pada paruh kedua tahun ini.

"Dampak tertunda ini biasanya membebani pengeluaran rumah tangga, investasi bisnis, dan layanan terkait transportasi dan perdagangan dalam beberapa kuartal mendatang. Meskipun demikian, permintaan AI dan keterlibatan Singapura dalam rantai pasokan regional seharusnya menjaga ekspor sebagai mesin pertumbuhan utama," katanya.

Tonton juga video "Purbaya: Kita Bersyukur di Tengah Gejolak Global, Ekonomi RI Masih Terjaga"

Halaman 2 dari 2
(ahi/ara)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads