×
Ad

Pertumbuhan Ekonomi China Melambat Jadi 4,3%

Andi Hidayat - detikFinance
Rabu, 15 Jul 2026 14:07 WIB
Ilustrasi/Foto: Shutterstock
Jakarta -

Ekonomi China tumbuh melambat pada kuartal II-2026. Catatan ini disebut menjadi yang paling lambat sejak tiga tahun imbas melemahnya konsumsi rumah tangga yang membayangi sektor manufaktur dan ekspor.

Pertumbuhan ekonomi China sebesar 4,3% pada kuartal II-2026. Angka tersebut meleset dari target tahunan yang ditetapkan China pada rentang 4,5-5%.

Penjualan ritel China naik 1% dengan produksi industri tumbuh 5,3% hingga akhir Juni 2026. Angka tersebut mencerminkan ketergantungan besar pasar Industri manufaktur China terhadap permintaan global yang terdampak ketidakpastian perang Iran dan Amerika Serikat (AS).

Sejumlah importir China untuk pasar Eropa mengeluhkan turunnya pendapatan sejak awal tahun karena penjualan perusahaannya menurun. Penyedia apartemen di negara tersebut juga mengalami krisis properti seiring terjadinya oversupply perumahan di China.

"Selain pengeluaran penting untuk makanan, saya berhemat sebisa mungkin. Saya belum membeli sehelai pakaian pun selama enam bulan," ungkap pelaku usaha impor dari China Timur, Jane Hou, dikutip dari Reuters, Rabu (15/7/2026).

Meski begitu, perekonomian China masih tetap tumbuh sebesar 4,7% sepanjang periode Januari-Juni. Angka tersebut masih dalam target sehingga mengurangi urgensi untuk stimulus besar-besaran.

Ekonom Pinpoint Asset Management, Zhiwei Zhang, menilai perhatian pasar saat ini tertuju pada pertemuan Partai Komunis China yang membahas kondisi ekonomi dan menyesuaikan kebijakan untuk menjaga pertumbuhan tetap sesuai rencana.

Banyak ekonom berpendapat tantangan yang lebih besar bukanlah laju pertumbuhan, melainkan komposisinya. Zhang menilai, pertemuan Politbiro akan menandakan defisit fiskal yang lebih luas, mengingat ekspor saat ini masih kuat.

"Pemerintah tampaknya enggan menghabiskan sumber daya fiskal dan menumpuk utang. Terdapat konsensus umum di antara para pembuat kebijakan dan peneliti bahwa China perlu meningkatkan permintaan domestik. Tetapi tidak ada konsensus tentang bagaimana cara melakukannya," kata Zhang.

Tonton juga video "Purbaya: Kita Bersyukur di Tengah Gejolak Global, Ekonomi RI Masih Terjaga"




(ahi/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork