Follow detikFinance
Rabu 14 Dec 2016, 15:05 WIB

Sektor Telekomunikasi Raup Untung di Tengah Kegaduhan Politik dan Liburan

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Sektor Telekomunikasi Raup Untung di Tengah Kegaduhan Politik dan Liburan Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - Kegaduhan politik yang semakin memanas menjelang Pilkada serentak Indonesia pada Februari mendatang ternyata tidak hanya memberi sentimen negatif terhadap keharmonisan Indonesia.

Sektor telekomunikasi malah meraup keuntungan dari hingar-bingar politik yang sedang terjadi saat ini, pasalnya orang-orang tidak hanya debat secara langsung untuk mendukung jagoannya, namun peran sosial media sudah menjadi sangat penting untuk ajang kampanye dan menjatuhkan lawan-lawan politik.

Peran alat komunikasi tak bisa lagi diabaikan di tengah-tengah era digitalisasi saat ini. Bukan hanya pekerja kantoran saja yang sibuk dengan alat komunikasinya baik menggunakan telpon, berkirim pesan atau menggunakan fasilitas jaringan data seluler yang semakin cocok di kantong, bahkan anak-anak pun semakin sulit meninggalkan ponsel pintar.

Menurut Analis Bahana Securities Leonardo Henry Gavaza, hingga awal tahun depan, saham-saham sektor komunikasi masih sangat layak untuk dibeli, pasalnya saat musim liburan seperti di Desember, orang-orang akan semakin aktif berkomunikasi atau saling berkirim pesan baik dengan cara konvensional atau pun dengan menggunakan jaringan data, ditambah lagi adanya keributan politik yang terjadi sekarang, membuat penggunaan data telepon pintar meningkat cukup tajam.

''Tren dunia saat ini semakin aktif menggunakan smartphone dan data, sehingga profitabilitas perusahaan di sektor telekomunikasi akan bagus, ditambah lagi musim liburan pada Desember," kata Leonardo dalam risetnya seperti dikutip detikFinance, Rabu (14/12/2016).

Bahana merekomendasikan beli untuk saham Telekomunikasi Indonesia (TLKM), saham Indosat (ISAT) dan saham XL Axiata (EXCL).

Hal-hal yang bisa mempengaruhi kinerja ketiga perusahaan ini di antaranya regulasi yang masih berlarut-larut mengenai interkoneksi dan network sharing.

Pasalnya, bila pemerintah membolehkan network sharing, akan mengurangi besaran laba yang bisa dikantongi oleh PT Telekomunikasi Indonesia yang berasal dari luar Jawa untuk jangka menengah.

Sebaliknya, ISAT dan EXCL akan memetik keuntungan dari ekspansinya di luar Jawa. Belum lagi masalah perang tarif antara ISAT dan EXCL di luar Jawa untuk meningkatkan market share.

Bahana memperkirakan akhir tahun ini, laba bersih TLKM akan naik sekitar 30% menjadi Rp 20,06 triliun dari periode akhir tahun lalu sebesar Rp 15,49 triliun. Pada 2017, laba Telkom diperkirakan naik sekitar 14% secara tahunan. Leo merekomendasikan beli untuk saham TLKM dengan target price Rp 5.000.

Rekomendasi beli juga diberikan untuk ISAT dengan target price Rp 8.500 dan EXCL dengan target price Rp 3.000. Pasalnya, rencana penurunan tarif interkoneksi di sektor telekomunikasi, akan memberikan dampak positif terhadap kinerja keuangan ISAT dan EXCL karena perusahaan-perusahaan ini akan membayar tarif interkoneksi yang lebih murah.

Bila keputusan penurunan tarif interkoneksi sudah final dan dijalankan, diperkirakan ISAT dan EXCL akan menurunkan tarif untuk meningkatkan market share mereka di pasar.

''Rencana pemerintah mengeluarkan aturan baru mengenai network sharing juga akan menguntungkan Indosat dan XL karena jika network sharing diizinkan maka ekspansi kedua perusahaan ini ke luar pulau Jawa akan semakin murah dan feasible," ungkap Leo.

Bahana memperkirakan, ISAT akan membukukan laba bersih sebesar Rp 1,1 triliun pada akhir tahun ini, naik cukup signifikan dibandingkan tahun lalu yang membukukan rugi sebesar Rp 1,31 triliun. Dengan berbagai kebijakan dan kondisi yang menguntungkan ISAT, laba bersih diperkirakan akan naik hampir dua kali lipat pada 2017 menjadi Rp 2,05 triliun.

Sementara itu, EXCL diperkirakan akan membukukan rugi bersih sebesar Rp 247 miliar pada akhir tahun ini, naik dibandingkan tahun lalu yang membukukan rugi sebesar Rp 25 miliar.

Pasalnya, beberapa pos beban mengalami kenaikan seperti beban pegawai dan marketing, sementara itu pendapatan menurun. Namun, dengan berbagai kebijakan dan kondisi yang menguntungkan, EXCL diperkirakan akan membukukan laba bersih sebesar Rp 345 miliar pada 2017. (drk/drk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed