Follow detikFinance
Jumat 11 Aug 2017, 11:34 WIB

Penggoreng Saham vs Insider Trading, Siapa Paling Jahat?

Danang Sugianto - detikFinance
Penggoreng Saham vs Insider Trading, Siapa Paling Jahat? Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Goreng saham dan insider trading merupakan dua jalan pintas bagi pelaku pasar untuk mencari keuntungan. Namun kedua hal itu merupakan praktik ilegal. Lalu siapa yang paling jahat? penggoreng saham atau insider trading?

Praktisi pasar modal dan inspirator investasi, Ryan Filbert menjelaskan, pelaku insider trading merupakan merupakan seseorang yang memiliki akses informasi yang tidak bisa didapat oleh orang lain. Informasinya berisi tentang aksi korporasi maupun laporan keuangan yang bisa menjadi sentimen penggerak saham namun belum terungkap ke publik.

"Jadi dia tahu lebih dulu. Nah ketika dia tahu informasi itu dia beli secara diam-diam sebelum sahamnya bergerak," tutur Ryan kepada detikFinance, Jumat (11/8/2017).


Sementara untuk goreng saham merupakan praktik perdagangan semu. Praktik ini lebih rumit karena dilakukan secara struktur, berkelompok, dan pastinya membutuhkan lebih dari satu rekening di banyak broker.

Awalnya komplotan yang disebut Ryan sebagai 'bandit' itu, memberikan rekomendasi sell terhadap saham yang dituju kepada para pemegang saham. Dengan begitu saham bandit bisa menampung saham tersebut di lever yang rendah.

Setelah terkumpul, sang penggoreng saham mulai transaksi melalui akun-akunnya, seolah-olah memang terjadi transaksi. Pelaku pasar lainnya pun mulai memandang saham tersebut rebound.

Untuk lebih meyakinkan para investor, komplotan penggoreng saham biasanya menyebar isu-isu positif terkait emiten yang sahamnya tengah digoreng.

Nah, penyebaran isu-isu ini dilakukan secara sporadis melalui grup-grup sosial media yang berisi investor saham. Bahkan menurut Ryan terkadang juga melibatkan media untuk menyebarkan isu tersebut.


Ketika saham yang digoreng sudah matang atau mencapai level yang diinginkan, barulah sang penggoreng saham melakukan aksi jual secara besar-besaran. Saham gorengan yang tadinya melambung tinggi, tiba-tiba terkapar lagi.

Menurut Ryan jika dilihat dari praktiknya tentu yang paling jahat adalah komplotan bandit penggoreng saham. Sebab dalam praktiknya penggoreng saham membutuhkan para pelaku pasar lain sebagai tumbal.


"Insider trading itu kadang tidak merugikan orang, hanya menguntungkan diri sendiri tapi enggak ngajak-ngajak. Nah kalau praktik bandit ini yang merugikan orang," tuturnya.

Kendati begitu, kedua praktik tersebut tetap ilegal untuk dilakukan. Undang-Undang Pasar Modal pun melarangnya. Meskipun sulit bagi para otoritas pasar modal untuk memberantas aksi-aksi tersebut. (hns/hns)


Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed