Keuangan BUMN Mulai 'Berdarah-darah', Pemerintah Harus Bagaimana?

Danang Sugianto - detikFinance
Jumat, 08 Des 2017 15:32 WIB
Foto: Wisma Putra
Jakarta - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor konstruksi atau BUMN Karya mulai menunjukkan gejala kesulitan keuangan. Meski masih mencetak laga, namun terpantau rasio utang terhadap ekuitas alias debt to equity ratio (DER) BUMN-BUMN tersebut membengkak.

Makin tinggi DER maka makin tinggi beban utang yang harus ditanggung perusahaan, dan bisa menurunkan kemampuan perusahaan untuk melunasi utangnya.


Meski demikian, bukan berarti pemerintah tidak bisa melakukan apa-apa. Sekretaris Kementerian BUMN periode 2005-2010, Said Didu punya saran bagi pemerintah agar keuangan BUMN Karya yang mulai berdarah-darah tidak semakin buruk dan bisa dipulihkan.

"Saran saya sih, jangan semua proyek sekarang dikerjakan, fokuskan pada proyek agar selesai sehingga ada revenue segera," kata dia ketika berbincang dengan detikFinance melalui sambungan telpon, Jumat (8/12/2017).

Dengan cara tersebut, BUMN pelaksana pembangunan bisa segera memperoleh pemasukan untuk menyelesaikan kewajibannya seperti pembayaran utang pinjaman, hingga membayar jasa sub kontraktor dan keperluan lainnya.

"Kalau selesai semua 70% kan enggak bisa ada revenue, tapi kalau dibatasi sebagian dan diselesaikan maka itu lebih cepat ada revenue kan. Untuk proyek yang masih rencana mending tahan dulu," sambung dia.

Para direksi BUMN karya yang dihubungi detikFinance saat ini mengaku sedang rapat sehingga belum bisa memberikan penjelasa terkait kabar ini.

(dna/zlf)